‘Hate being a girl in this situation’. Entah udah berapa kali gue nulis kalimat itu hari ini. Gue akui, terkadang jadi perempuan itu suatu hal yang sangat menyenangkan dan mengasyikkan. Kita bisa pake baju dengan model dan warna yang jauh lebih bervariasi dari pada laki-laki yang cenderung monoton dan itu itu aja. Kita juga bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memanjakan diri ke salon tanpa harus terlihat aneh. Begitu pula barang-barang fashion yang mayoritas ditujukkan untuk para perempuan.
Tapi, segala sesuatu pasti ada positif dan negatifnya. Dan gue merasa benci menjadi perempuan utuk saat-saat tertentu. Jadi perempuan ada ngga enaknya juga. Seperti yang sedang gue alami saat ini. Mood labil karena sedang mengalami yang namanya PMS. Suatu hal yang amat sangat gue benci. Bawaannya sensian + pengen marah-marah. Terus tiba-tiba pengan nangis ngga karuan padahal ngga ada sebabnya. Belum lagi rasa sakit kalau mau datang tamu bulanan. Rasanya suck banget.
Sebagai perempuan, kita dituntut buat bersikap lebih ‘tau aturan’ dibanding laki-laki. Ada jam malam yang harus ditaati. Ngga boleh pulang terlalu malam, alasannya karenga gue perempuan. Gue ngga bisa menyalahkan para orang tua yang menerapkan prinsip ini pada anak-anaknya, karena memang udah dari sononya melekat dari budaya. Budaya yang ‘membentuk’ perempuan seperti ini. Contohnya aja, jika ada perempuan yang merokok mayoritas akan menganggap wanita itu ‘nakal’ karena tidak berprilaku seperti apa yang diharapkan masyarakat dari perempuan. Lagi-lagi kita ditunutut menjaga sikap. Kalo menurut gue sih itu ngga adil. Gue bukan bermaksud mendukung para perempuan yang merokok, dan gue juga bukanlah seorang perokok. Yang mau gue pertanyakan, kenapa hanya wanita yang dicap buruk jika merokok? Kenapa jika pria yang merokok dianggap sah-sah saja? Padahal kandungan dari rokok tersebut sama. Menurut gue sih, ngga hanya perempuan namun pria juga tidak seharusnya merokok, mengingat hal tersebut itu pada dasarnya memang kurang baik baik tubuh. Efek fisiologisnya akan sama pada perempuan maupun laki-laki. Tapi efek psikologinya tidak.
Well, kembali pada inti pembicaraan, kalo gue diberi kesempatan buat terlahir kembali. Gue akan memilih menjadi laki-laki. Perempuan itu terkadang over sensitif akan sesuatu, dan gue benci saat gue mengalami hal tersebut. Tapi mau gimana lagi, Tuha berkehendak lain. Syukuri aja apa yang ada. -,-

0 komentar:
Post a Comment