Sang Pembuat
Tembok yang dibangun dengan susah payah, memakan waktu dan tenaga, menguras hati dan pikiran, tiba2 dalam hitungan jam diporakporandakan, ditendang2, dan hancur tak beraturan. Lalu ditinggal pergi begitu saja. Meninggalkan banyak luka di hati sang pembuat. Skrg sang pembuat harus mulai dari awal. Dari nol. Seorang diri. Mulai kembali mengumpulkan bahan, memungut bebatuan, membuat semen, membeli batu bata. Ketika mulai dari awal dan hingga nyaris selesai, orang tersebut muncul kembali. Meminta maaf pada sang pembuat dan membantu menyusun tembok itu kembali. Namun hanya dalam hitungan jam, ketika sedikit kesalahpahaman mengenai mana yg harus diletakkan terlebih dahulu, apakah semen atau batu bata, orang tersebut pun marah, lalu kembali menghancurkan tembok yang sudah berhari2, berminggu2, siang dan malam dikerjakan oleh sang pembuat. Lalu setelah puas melampiaskan amarahnya, orang tersebut pun pergi, meninggalkan tembok yg sudah hancur pun hati sang pembuat. Sungguh, hati sang pembuat sedih. Ia marah dan kecewa, namun tak bisa berbuat apa2. Tak berdaya. Tak ada pilihan lain, sang pembuat pun kembali dari awal. Dari nol. Mulai mengumpulkan bahan2, membuat semen, mencari bebatuan. Dimulainya lagi dari awal. Dengan sabar dan ikhlas. Siang dan malam. Ketika sudah hampir jadi, orang tersebut pun datang kembali. Meminta maaf karena sudah menghancurkan temboknya dan ingin membantu sang pembuat untuk membangun temboknya kembali. Sebenarnya tembok tersebut sudah hampir jadi dan tidak butuh bantuan apa2. Namun, sang pembuat yang tidak ingin menyakiti hati orang tersebut, dengan begitu sabar memaafkannya dan mempersilahkan orang tersebut membantunya. Kali ini, sang pembuat berusaha agak tidak membuat orang tersebut marah. Namun ada saja, ketika sang pembuat meminta tolong orang tersebut mengambil air untuk membuat semen, orang tersebut marah karena tidak terima dirinya disuruh2. Dan bisa ditebak, orang tersebut kembali menghancurkan tembok tersebut. Sang pembuat sangat sedih. Kali ini, setelah sekian lama ditahan, ia pun menangis. Tangis yang sangat pilu. Namun ia tak menyerah. Ia dengan sabar kembali dari awal. Dari nol. Mencari bahan2. Bebatuan. Pasir. Ia dengan tekun mulai membuat tembok itu. Namun entah karma apa yg sedang terjadi, orang yg dulu menghancurkan temboknya tersebut kembali dan meminta maaf. Sang pembuat yang meskipun sudah hampir habis kesabarannya, tetap memaafkannya dan menerimanya kambali dengan harapan orang tersebut benar2 berubah. Namun seperti yang sudah dapat ditebak, akhirnya orang tersebut kembali menghancurkan tembok itu kembali. Berkali2. Dengan alasan yang hampir serupa. Sang pembuat sudah tak tau lagi berbuat apa. Ketika dia hampir menyerah, namun dia menyadari bahwa dia membutuhkan tembok tersebut untuk melindungi dirinya. Maka dengan sisa tenaga yg ada, iya mulai kembali dari awal. Dari nol. Ketika tembok tersebut hampir selesai. Orang yg menghancurkan temboknya dulu datang kembali. Kali ini, UNTUK PERTAMA KALINYA, sang pembuat tidak menerimanya dan menyuruh orang tersebut pergi. Setelah memohon2 sedemikirian rupa, sang pembuat tetap bertahan dengan keputusannya dan menyuruh orang tersebut pergi. Esoknya orang tersebut datang kembali dan meskipun hati sang pembuat sedikit goyah, namun ia tetap menyuruh orang itu pergi. Sampai pada akhirnya tembok tersebut selesai dibangun, orang tersebut tetap memohon untuk diijinkan ikut berlindung di tembok itu. Sang pembuat berpikir ulang, toh temboknya sudah jadi, pikirnya. Akhirnya pun ia menerima orang tersebut kembali. Namun sang pembuat lupa, tembok tersebut masih belum kokoh. Banyak semen yang masih belum mengering. Dan hanya karena masalah sepele, dengan mudahnya orang tersebut kembali memporakporandakan tembok tersebut. Dan pergi meninggalkan sang pembuat. Kali ini sang pembuat sudah benar2 menyerah. Dia sudah tidak sanggup lagi harus membuat dari awal. Tanpa adanya pelindung, siang terkena sengatan matahari yg begitu panas. Malam harus menggigil kedinginan. Tubuh sang pembuat semakin rapuh, demikian pula dengan hatinya. Ia mulai sakit2an. Sampai pada akhirnya ia tak kuat lagi dan harus meregang nyawa. Hilang. Terlupakan. Bagaimana dengan orang yang barkali2 menghancurkan tembok tersebut? Tidak ada yang tahu. Mungkin sedang bersenang2 di tempat lain, atau sedang menghancurkan tembok2 lain, atau justru sedang menyesali perbuatanya. Tak ada yang tahu. Siapa pula orang tersebut, mengapa dengan bodohnya sang pembuat terus memaafkannya dan menerimanya kembali? Tidak ada juga yang tahu. Mungkin seseorang dari masa lalu yang sangat berarti untuk sang pembuat. Tidak ada pula yang tahu.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

0 komentar:
Post a Comment