welcome to my blog !
RSS

Dari Aimere, The Local Wine Laboratory hingga ke Kampung Adat Bena (Chapter 5)

Lanjutan dari

Dari desa Waerebo, kami melanjutkan perjalanan menuju Bajawa. Di tengah perjalanan, kami menyempatkan diri ke Aimere, yaitu daerah yang terkenal sebagai produsen arak lokal Flores, atau yang biasa disebut dengan moke. Kami singgah sejenak dan bapak pemiliknya dengan berbaik hati mau menjawab ke-kepo-an kami.
Jadi, asal muasal moke ini adalah dari buah lontar. Buah ini diproses hingga menjadi cairan yang ditampung dalam ember-ember. Kemudian cairan tersebut dimasukkan ke dalam sebuah tungku dan dipanaskan dengan suhu tertentu selama kurang lebih 1 hari. Uap yang dihasilkan dari hasil pemanasan tersebut lah yang kemudian ditampung dan menjadi moke. Moke sendiri terdiri dari beberapa kelas. Kelas 1 merupakan moke dengan tingkat alkohol paling tinggi. Penguapannya bisa 2 hingga 3 kali. Jadi uap yang sudah ditampung akan diuapkan kembali. Harga moke kelas 1 adalah 100.000 rupiah per 600 ml. Kemudian ada moke kelas 2 dan kelas 3 yang tingkat alkoholnya lebih rendah dari moke kelas 1. Harganya pun lebih murah, berkisar antara 50.000 rupiah per 600 ml.  


Buah lontar

Hasil perasan buah lontar. Untuk menghasilkan 1 ember membutuhkan berpuluh-puluh buah lontar

proses penguapan

Kami pun melanjutkan perjalanan dan akan bermalam di Bejawa. Kami tiba di sebuah penginapan yang cukup bersih dan cukup bagus (better dibanding hotel di LBJ) bernama Lukas dengan tarif Rp 250.000 untuk ber 3.
Pagi harinya, setelah mandi (sambil teriak-teriak karena super dingin) dan sarapan, kami melanjutkan perjalanan. Kami menuju Malanage Hotspring. Ini tempat sebenarnya di pinggir jalan, namun tidak ada tanda atau plang jadi sepertinya kalau turis macam kami ini ngga akan tahu kalau ada tempat itu. Malanage ini merupakan sungai alami, yang juga biasa disebut dengan magic hotspring. Dari 2 sumber sungai berbeda dan kemudian menjadi satu. Sumber sungai yang pertama merupakan air panas *beneran panas* dan sumber sungai sungai kedua merupakan air dingin. Maka ketika sudah bercampur, air pun menjadi hangat. Rio dan Ilham sempat berenang-renang. Saya sih rencananya hanya main air saja, meskipun akhirnya basah juga.


Ngga ada foto yang lebih jelas daripada ini. Hihihi maaf ya 






Tidak lama bermain air, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Saya sempat tidur di jalan beberapa kali. Sebenarnya sudah menahan diri agar tidak tertidur karena pemandangan sepanjang jalan yang luar biasa indahnya. Namun apalah daya saya manusia setengah kebo, jalan yang berkelok-kelok pun seperti meninabobokan saya. Hihi
Bangun-bangun saya sudah berada di Kampung Adat Bena. Bena ini berada di kabupaten Ngada. Bena merupakan kampung yang dianggap sebagai kampung tertua yang masih bertahan dengan apa yang diwariskan oleh leluhur. Bena sendiri diambil dari seseorang yang bernama Bena pada awal pendirian kampung karena dia merupakan yang paling tua diantara saudara-saudaranya. (sumber: plang yang terdapat di Kampung Bena).
Mata pencaharian utama dari penduduk kampung ini adalah berkebun. Ketika kami mengunjungi kampung tersebut, terdapat beberapa ibu yang sedang mengupas kemiri, yang mana merupakan hasil kebun mereka.

Kampung Bena

Mengupas kemiri

Menenun

Kain tenun

I feel freeeee~~~




















Di depan rumah-rumah tersebut, banyak digelar kain-kain tenun yang ternyata diperjualbelikan. Ingin hati saya membelinya mengingat setiap bagian di Flores memiliki corak khasnya masing-masing. Namun apa daya saya harus mengirit karena sebelumnya sudah membeli 3 lembar kain tenun.
 Motif kain tenun dari Bena ini pada umumnya bergambar jara (kuda), wa’i manu (cakar ayam), ghi’u (garis dinamis), ube, ngadhu, dan bhaga. Motif ini juga memiliki jenjang dan diatribuskan pada jenis kelamin pemakainya. Untuk anak-anak, wa’i manu diaplikasikan sebagai tanda bahwa mereka sedang berada pada tahapan langkah awal atau taraf mencari ilmu untuk menghidupi mereka ke depan. Sedangkan kuda, merupakan alat mas kawin dan alat transportasi yang penting. Ghi’u yang berbentu kurva melengkung menyerupai gunung sebagai lambang bahwa manusia harus siap menjalani hidup yang baik turun/dinamis. Ube merupakan suatu figur memegang tombak, sebagai lambang perlindungan diri dari musuh. Ngadhi berarti bahwa laki-laki dewasa harus melindungi keluarga, mencari nafkah dan menjadi penegak nilai. Sedangkan motif apapun yang lebih besar biasa disebut dengan motif gajah, yang merupakan motif spesial dan merupakan lambang suatu kebesaran. Hanya orang-orang dari rang (kelas) atas yang bisa memakainya, meskipun saat ini semua orang sudah dapat memakainya.
Sedangkan sarung ikat yang digunakan oleh perempuan pada umumnya bermotif perhiasan yang biasa digunakan di telinga perempuan dengan bentuk segitiga, atau yang disebut dengan bela. Letak motif ini biasanya ditempatkan di masing-masing pinggir sarung mengapit motif kuda yang berada di tengah. Selain itu juga, terdapat motif bhaga yang biasa digunakan oleh perempuan yang sudah memiliki anak, sebagai lambang kesuburan.
Setelah berkeliling, kami melanjutkan perjalanan menuju Ende, rumah neneknya Rio. Sepanjang perjalanan saya pun tertidur *kebo*. Dan saya baru terbangun saat kami hampir tiba di destinasi.

Next: Indahnya Danau Kelimutu (bersambung)

0 komentar: