Dari desa
Waerebo, kami melanjutkan perjalanan menuju Bajawa. Di tengah perjalanan, kami
menyempatkan diri ke Aimere, yaitu daerah yang terkenal sebagai produsen arak
lokal Flores, atau yang biasa disebut dengan moke. Kami singgah sejenak dan bapak pemiliknya dengan berbaik hati
mau menjawab ke-kepo-an kami.
Jadi,
asal muasal moke ini adalah dari buah
lontar. Buah ini diproses hingga menjadi cairan yang ditampung dalam
ember-ember. Kemudian cairan tersebut dimasukkan ke dalam sebuah tungku dan
dipanaskan dengan suhu tertentu selama kurang lebih 1 hari. Uap yang dihasilkan
dari hasil pemanasan tersebut lah yang kemudian ditampung dan menjadi moke. Moke sendiri terdiri dari beberapa kelas. Kelas 1 merupakan moke dengan tingkat alkohol paling
tinggi. Penguapannya bisa 2 hingga 3 kali. Jadi uap yang sudah ditampung akan
diuapkan kembali. Harga moke kelas 1
adalah 100.000 rupiah per 600 ml. Kemudian ada moke kelas 2 dan kelas 3 yang tingkat alkoholnya lebih rendah dari moke kelas 1. Harganya pun lebih murah,
berkisar antara 50.000 rupiah per 600 ml.
| Buah lontar |
| Hasil perasan buah lontar. Untuk menghasilkan 1 ember membutuhkan berpuluh-puluh buah lontar |
| proses penguapan |
Kami pun
melanjutkan perjalanan dan akan bermalam di Bejawa. Kami tiba di sebuah
penginapan yang cukup bersih dan cukup bagus (better dibanding hotel di LBJ) bernama Lukas dengan tarif Rp
250.000 untuk ber 3.
Pagi harinya, setelah mandi
(sambil teriak-teriak karena super dingin) dan sarapan, kami melanjutkan
perjalanan. Kami menuju Malanage Hotspring. Ini tempat sebenarnya di
pinggir jalan, namun tidak ada tanda atau plang jadi sepertinya kalau turis
macam kami ini ngga akan tahu kalau ada tempat itu. Malanage ini merupakan
sungai alami, yang juga biasa disebut dengan magic hotspring. Dari 2
sumber sungai berbeda dan kemudian menjadi satu. Sumber sungai yang pertama
merupakan air panas *beneran panas* dan sumber sungai sungai kedua merupakan
air dingin. Maka ketika sudah bercampur, air pun menjadi hangat. Rio dan Ilham
sempat berenang-renang. Saya sih rencananya hanya main air saja, meskipun
akhirnya basah juga.![]() |
| Ngga ada foto yang lebih jelas daripada ini. Hihihi maaf ya |
Tidak
lama bermain air, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Saya sempat tidur di
jalan beberapa kali. Sebenarnya sudah menahan diri agar tidak tertidur karena
pemandangan sepanjang jalan yang luar biasa indahnya. Namun apalah daya saya
manusia setengah kebo, jalan yang berkelok-kelok pun seperti meninabobokan
saya. Hihi
Bangun-bangun
saya sudah berada di Kampung Adat Bena. Bena
ini berada di kabupaten Ngada. Bena merupakan kampung yang dianggap sebagai
kampung tertua yang masih bertahan dengan apa yang diwariskan oleh leluhur.
Bena sendiri diambil dari seseorang yang bernama Bena pada awal pendirian
kampung karena dia merupakan yang paling tua diantara saudara-saudaranya. (sumber:
plang yang terdapat di Kampung Bena).
Mata
pencaharian utama dari penduduk kampung ini adalah berkebun. Ketika kami
mengunjungi kampung tersebut, terdapat beberapa ibu yang sedang mengupas
kemiri, yang mana merupakan hasil kebun mereka.
![]() |
| Kampung Bena |
![]() |
| Mengupas kemiri |
![]() |
| Menenun |
![]() |
| Kain tenun |
![]() |
| I feel freeeee~~~ |
Di depan
rumah-rumah tersebut, banyak digelar kain-kain tenun yang ternyata
diperjualbelikan. Ingin hati saya membelinya mengingat setiap bagian di Flores
memiliki corak khasnya masing-masing. Namun apa daya saya harus mengirit karena
sebelumnya sudah membeli 3 lembar kain tenun.
Motif kain tenun dari Bena ini pada umumnya
bergambar jara (kuda), wa’i manu (cakar ayam), ghi’u (garis dinamis), ube, ngadhu, dan bhaga. Motif ini juga memiliki jenjang dan diatribuskan pada jenis
kelamin pemakainya. Untuk anak-anak, wa’i
manu diaplikasikan sebagai tanda bahwa mereka sedang berada pada tahapan
langkah awal atau taraf mencari ilmu untuk menghidupi mereka ke depan. Sedangkan
kuda, merupakan alat mas kawin dan alat transportasi yang penting. Ghi’u yang berbentu kurva melengkung
menyerupai gunung sebagai lambang bahwa manusia harus siap menjalani hidup yang
baik turun/dinamis. Ube merupakan
suatu figur memegang tombak, sebagai lambang perlindungan diri dari musuh. Ngadhi berarti bahwa laki-laki dewasa
harus melindungi keluarga, mencari nafkah dan menjadi penegak nilai. Sedangkan
motif apapun yang lebih besar biasa disebut dengan motif gajah, yang merupakan
motif spesial dan merupakan lambang suatu kebesaran. Hanya orang-orang dari rang (kelas) atas yang bisa memakainya, meskipun saat ini semua orang sudah
dapat memakainya.
Sedangkan
sarung ikat yang digunakan oleh perempuan pada umumnya bermotif perhiasan yang
biasa digunakan di telinga perempuan dengan bentuk segitiga, atau yang disebut
dengan bela. Letak motif ini biasanya
ditempatkan di masing-masing pinggir sarung mengapit motif kuda yang berada di
tengah. Selain itu juga, terdapat motif bhaga
yang biasa digunakan oleh perempuan yang sudah memiliki anak, sebagai lambang
kesuburan.
Setelah berkeliling,
kami melanjutkan perjalanan menuju Ende, rumah neneknya Rio. Sepanjang
perjalanan saya pun tertidur *kebo*. Dan saya baru terbangun saat kami hampir
tiba di destinasi.
Next: Indahnya Danau Kelimutu
(bersambung)









0 komentar:
Post a Comment