*chapter 1
*chapter 2
*chapter 3
Kami berangkat
pukul 8 dari Labuan Bajo dan sampai di desa Denge pukul 2 siang. Untungnya
siang itu tidak begitu terik. Cenderung mendung malah, tapi tidak hujan. Kami
start dari desa Denge pukul 14.10 diantar dengan 2 anak asli Waerebo yang
bersekolah di desa Denge, yaitu Lorenz dan Gonza. Lorenz ini kelas 6 SD
sedangkan Gonza kelas 1 SD. Perjalanan dari desa Denge menuju Waerebo tidak
bisa dikatakan mudah. 3 km pertama dilalui dengan perjuangan dahsyat karena
jalan yang curam menanjak dengan bebatuan yang sangat tajam. Jadi katanya,
mulai bulan Maret 2015 akan dibangun jalan. Apesnya kami datang saat jalan
belum jadi namun proses persiapannya sudah dimulai. Jadi harus menginjak
bebatuan super tajam dengan sepatu yang tipis ini. Sebenernya ngga expect bakal sesulit ini medannya. Ku
pikir yaa trekking santai aja gitu
wakwakaka. Makanya ngga terlalu banyak persiapan.
| Jalan terjal tak berujung. Tungguin napaaa~~~ |
Setelah
berjalan kurang lebih 3 km, kami menemui sungai pertama. Melewati sungai,
terdapat plang mengenai pesan dari penduduk asli Waerebo. Perjalanan berikutnya
sudah beralaskan tanah, pohon pun sudah cukup rindang. Jalanan menanjak yang
lumayan licin karena semalam hujan menemani kami selama perjalanan. Emang
dasarnya jarang olahraga, jalan beberapa menit aja capek wakakak. Berkali-kali
istirahat sampai ngga keitung jumlahnya. Hingga 3 km menuju desa Waerebo, kami
bertemu dengan bapak-bapak yang sedang istirahat. Bapak itu membawa 2 bongkahan
kayu super besar untuk dijual di kota. Kami sempat mengobrol sejenak. Rupanya
bapak itu bertelanjang kaki. Aku yang dari awal mengutuki karena salah sepatu
jadi malu sendiri. Rasanya banyak ngeluhnya. Padahal, barang bawaannya ga
seberapa.
| Belum pernah ada kan yang naik gunung pake sendal crocs? |
![]() |
| Selfieee dulu kitaaa~~ |
![]() |
| Memandang alam dari atas bukit *nyanyi* |
![]() |
| Waerebo |
![]() |
| Kaki saya yang indah |
Begitu sampai, kami langsung menuju Mbaru Niang (sebutan untuk rumah Waerebo) utama. Disana kami disambut oleh pemuda Waerebo dan kepala adatnya. Sebelum tinggal di desa Waerebo, memang diharuskan melaksanakan upacara adat terlebih dahulu. Kepala adat berdoa kepada leluhur, dan menerima kami bukan lagi sebagai orang Bandung, namun sudah menjadi bagian dari anak Waerebo. Untuk upacara adat tersebut, kami diharuskan membayar dengan nominal sukarela. Setelah upacara adat selesai, kami pun menuju Mbaru Niang yang memang sudah disediakan khusus untuk tamu yang datang. Salah satu perbedaan antara Mbaru Niang yang kami tempati dengan Mbaru Niang yang lain adalah dapurnya. Mbaru Niang yang kami tempati terpisah dari dapur. Dapur berada di belakang dan memiliki bangunan tersendiri. Sedangkan Mbaru Niang lain, dapur terletak di tengah-tengah ruangan yang dikelilingi oleh kamar-kamar. Kebayang gimana pengepnya kalau lagi pada masak dengan keadaan pintu ditutup. Mungkin itu kenapa, anak-anak Waerebo banyak yang terserang pilek. Selain udara yang lembab, ventilasi udara juga kurang lancar. Saya iseng coba masuk ke dapur dengan pintu tertutup dan hanya sanggup berdiam selama beberapa detik saja. Selain ngga kuat sama asapnya, mata juga perih banget.
Sedikit
cerita mengenai Mbaru Niang, satu bangunan ditinggali oleh 6 kepala keluarga.
Kecuali Mbaru Niang utama yang ditinggali oleh 8 kepala keluarga. Kamar satu dengan
lainnya saling bersisian dengan pintu berupa gorden saja. Entah apa yang bisa
membuat mereka dapat hidup rukun dalam satu rumah. Kebayang kalau ada yang lagi
cek cok, bisa-bisa satu rumah tau semua. Huehehe.
Saat itu,
hanya kami wisatawan yang datang. Salah satu mama bertanya kepada kami, berapa
lama waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke Waerebo. Kemudian beliau
bercerita bahwa pernah ada wisatawan yang sampai ke Waerebo dengan waktu tempuh
selama 7 jam. Busettttt, kirain saya yang paling lama. *sedikit bangga* hihihi.
Setelah
dihidangkan kopi asli Waerebo, kami menunggu sebentar untuk makan malam. Menu
makan malam yang sangat sederhana. Kami disuguhi nasi, ayam goreng (yang saat
kami datang ayam tersebut sedang siap-siap dipotong *horor*), dan sayur
singkong. Saya sama sekali tidak menyentuh ayam karena mendadak ngga tega lihat
ayamnya tadi :(
![]() |
| Kopi asli Waerebo. Kalau tehnya sih teh celup. :))) |
![]() |
| Makan malam |
Oiya, ada
biaya yang harus kami keluarkan untuk menginap 1 malam disini. Per orangnya
kami diharuskan membayar sebesar Rp 325.000,-. Saya pikir, sangat mahal jika
dibandingkan fasilitas yang diberikan dan dibandingkan juga dengan hotel di
Labuan Bajo yang hanya berharga Rp 100,000 per orang. Tapi, mengingat
perjuangan orang-orang Waerebo yang membawa beras berkilo-kilo jalan kaki dari
bawah sampai atas, maka harga tersebut cukup wajar (meskipun masih terasa
mahal. Hiks. *kere*)
Waerebo
di malam hari itu...... DINGIIIINNNNN!!! Yang awalnya niat mau mandi, urung
sudah niat tersebut. Hehehe. Saya pun bersiap tidur dengan peralatan lengkap:
baju panjang, jaket, selendang, selimut, dan kaos kaki. Meskipun demikian,
masih terasa dingiiiiinnnn. Dari dalam rumah, angin pun terdengar berhembus
kencang. Namun dasarnya kebo, cuaca gimana pun tetap saja molorrrrr. Hhihii.
![]() |
| Tempat tidur |
Paginya,
kami bangun pukul 7 *pemales*. Saya pun keluar dari Mbaru Niang dan ternyata
hujan sedang turun rintik-rintik. Suasana di desa Waerebo pun sepi. Saya
melihat ada salah satu Mbaru Niang yang pintunya terbuka. Saya pun berkunjung
dan terdapat 2 mama yang sedang memasak. Saya menyempatkan diri untuk
berbincang sebentar. Mereka sangat ramah sekali. Tak mau mengganggu lama-lama,
saya pun berpamitan. Saya kembali ke Mbaru Niang yang saya tinggali semalam dan
sudah tersedia sarapan. Menu sarapan ini lebih sederhana daripada semalam. Kami
disuguhi nasi goreng putih (bukan
coklat) dan singkong yang digoreng kering menyerupai kerupuk. Meskipun sangat
sederhana, harus tetap disyukuri :D
| Behind the scene. *candid* :))) |
| Sarapan |
Hujan pun
berhenti dan kami memutuskan untuk bergegas pulang. Sebelumnya, saya
menyempatkan diri membeli kain tenun yang memang digantung berjejer diujung
ruangan. Harga kain bervariasi tergantung motif. Sayangnya saya tidak sempat
melihat langsung cara membuat kain tenun.
![]() |
| Pengen dibeli semuaaaaa~~ |
Pukul 9,
kami berpamitan dan meninggalkan Waerebo. Perjalanan pulang cukup licin karena
tadi pagi turun hujan. Kami sempat bertemu dengan beberapa warga Waerebo yang
hendak pulang dari kota, sambil membawa beras, gula, dan sembako lainnya. Kami
juga bertemu dengan bapak yang kemarin kami temui saat berangkat menuju
Waerebo. Beliau menyalami kami dan bertanya kesan kami tentang desa Waerebo.
Setelah berbincang sebentar, kami pamit dan melanjutkan perjalanan.
Medan
tidak terlalu terasa berat seperti pada saat berangkat, sampai kami menemui
jalan berbatu tajam. Ohhh sungguh! Saya merasa jalan tersebut tidak ada
habisnya. Saya yang menggunakan sepatu crocs beralaskan tipis pun jadi
korbannya *salah sendiri L* Mana
cuaca saat itu teriiiiiiiiiiiiiiikkkkk sekali. Lagi-lagi, saya ditinggal oleh
Rio dan Ilham. Tapi saya kan strong girl
*padahal udah mau nangis*. Ngga ding.
Saya
sempat mengutuki diri kenapa ngga prepare
sepatu. Kan pasti ngga akan menderita kalo pake sepatu/sendal gunung. Tapiiii,
melihat warga Waerebo yang hanya meggunakan sendal jepit, saya malu sendiri.
Ngga papa deh, itung-itung ikut merasakan perjuangan mereka yang hampir tiap
minggu melewati jalan tersebut.
Dan
setelah perjalanan panjang, saya tiba juga di desa Denge. Di sana, mobil yang
kami sewa sudah menunggu. Saya pun bertemu Lorens yang hari itu bersekolah.
Ternyata tadi pagi dia berangkat dari desa Waerebo pukul 5 pagi dan tiba di
desa Denge pukul 6.30. Ternyata dia lari karena takut terlambat masuk sekolah.
*Maaf ya Dek kami ngga tahu L*
Banyak
hal yang saya peroleh dan mendapat banyak insight selama perjalanan 2 hari ini.
Selama ini saya kurang bersyukur sama apa yang saya miliki. Selama kuliah, saya
tak terhitung skip kelas karena malas. Memang sih dari rumah ke kampus
membutuhkan waktu 1,5 jam. Tapi kan saya naik mobil, ngga perlu jalan seperti
anak desa Waerebo. Begitu banyak perjuangan yang mereka keluarkan untuk
mengenyam pendidikan. Pelajaran lain yang saya peroleh adalah, hidup sederhana.
Saya begitu salut dengan warga desa Waerebo. Makan dengan menu sederhana,
berpakaian sederhana, tidak ada TV, pokoknya sederhana. Saya selama ini terlalu
banyak menghamburkan uang, yang mana tinggal minta sama Ibu dan Bapak.
Sedangkan mereka, harus naik turun gunung menjual hasil kebun mereka agar
mereka tetap bisa makan. *terharu*
Kami
mampir sejenak di Waerebo Lodge yang
terletak di desa Denge untuk mandi dan makan siang. Setelah segar dan kenyang,
kami pun melanjutkan perjalanan kembali.
Terima
kasih warga desa Waerebo yang telah mengijinkan kami untuk singgah sejenak.
Terima kasih atas pelajaran berharganya. Semoga kita selalu berada dalam
lindunganNya.










0 komentar:
Post a Comment