welcome to my blog !
RSS

Waerebo, desa di kaki langit (chapter 4)

lanjutan dari:
*chapter 1
*chapter 2
*chapter 3


Kami berangkat pukul 8 dari Labuan Bajo dan sampai di desa Denge pukul 2 siang. Untungnya siang itu tidak begitu terik. Cenderung mendung malah, tapi tidak hujan. Kami start dari desa Denge pukul 14.10 diantar dengan 2 anak asli Waerebo yang bersekolah di desa Denge, yaitu Lorenz dan Gonza. Lorenz ini kelas 6 SD sedangkan Gonza kelas 1 SD. Perjalanan dari desa Denge menuju Waerebo tidak bisa dikatakan mudah. 3 km pertama dilalui dengan perjuangan dahsyat karena jalan yang curam menanjak dengan bebatuan yang sangat tajam. Jadi katanya, mulai bulan Maret 2015 akan dibangun jalan. Apesnya kami datang saat jalan belum jadi namun proses persiapannya sudah dimulai. Jadi harus menginjak bebatuan super tajam dengan sepatu yang tipis ini. Sebenernya ngga expect bakal sesulit ini medannya. Ku pikir yaa trekking santai aja gitu wakwakaka. Makanya ngga terlalu banyak persiapan.

Jalan terjal tak berujung. Tungguin napaaa~~~

Setelah berjalan kurang lebih 3 km, kami menemui sungai pertama. Melewati sungai, terdapat plang mengenai pesan dari penduduk asli Waerebo. Perjalanan berikutnya sudah beralaskan tanah, pohon pun sudah cukup rindang. Jalanan menanjak yang lumayan licin karena semalam hujan menemani kami selama perjalanan. Emang dasarnya jarang olahraga, jalan beberapa menit aja capek wakakak. Berkali-kali istirahat sampai ngga keitung jumlahnya. Hingga 3 km menuju desa Waerebo, kami bertemu dengan bapak-bapak yang sedang istirahat. Bapak itu membawa 2 bongkahan kayu super besar untuk dijual di kota. Kami sempat mengobrol sejenak. Rupanya bapak itu bertelanjang kaki. Aku yang dari awal mengutuki karena salah sepatu jadi malu sendiri. Rasanya banyak ngeluhnya. Padahal, barang bawaannya ga seberapa.



Belum pernah ada kan yang naik gunung pake sendal crocs?

Selfieee dulu kitaaa~~

Memandang alam dari atas bukit *nyanyi*


    Setelah berpamitan, kami kembali mendaki. Ngga perlu takut nyasar, soalnya memang hanya ada 1 jalan setapak dan tidak ada percabangan. Saya ditinggal di belakang dengan Gonza. Ilham dan Rio udah duluan entah kemana. Saya sih jalannya pelan-pelan saja sambil menikmati pemandangan *padahal sih karena kelelahan* hehe. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, saya pun mempercepat langkah. Takut keburu gelap kan seremmmm. 2 km sebelum sampai, medan perjalanan tak sesulit di awal tadi. Jalan cenderung landai dan sedikit menurun. Dan pukul 6 tepat, saya sampai di sebuah bangunan seperti saung (sayangnya saya lupa bertanya apa namanya). Dari sini, desa Waerebo sudah terlihat jelas karena memang hanya berjarak 0,5 km. Seperti di panduan yang tertera, kami harus memukul pentungan untuk memberikan tanda kepada warga bahwa akan ada tamu yang datang. Dan akhirnya................................................... WELCOME TO DESA WAEREBO!!!! Perasaan campur aduk. Setelah 4 jam berjalan kaki, perasaan ingin menyerah di tengah jalan, kaki yang digigit lintah dimana-dimana, semua terbayar setelah sampai disini. 

Waerebo
Kucingnya sampai terpana :))))

Dora, Diego, dan Boots :))))))

Kaki saya yang indah dengan betis tukang becak ini pun jadi korbannya






















Begitu sampai, kami langsung menuju Mbaru Niang (sebutan untuk rumah Waerebo) utama. Disana kami disambut oleh pemuda Waerebo dan kepala adatnya. Sebelum tinggal di desa Waerebo, memang diharuskan melaksanakan upacara adat terlebih dahulu. Kepala adat berdoa kepada leluhur, dan menerima kami bukan lagi sebagai orang Bandung, namun sudah menjadi bagian dari anak Waerebo. Untuk upacara adat tersebut, kami diharuskan membayar dengan nominal sukarela. Setelah upacara adat selesai, kami pun menuju Mbaru Niang yang memang sudah disediakan khusus untuk tamu yang datang. Salah satu perbedaan antara Mbaru Niang yang kami tempati dengan Mbaru Niang yang lain adalah dapurnya. Mbaru Niang yang kami tempati terpisah dari dapur. Dapur berada di belakang dan memiliki bangunan tersendiri. Sedangkan Mbaru Niang lain, dapur terletak di tengah-tengah ruangan yang dikelilingi oleh kamar-kamar. Kebayang gimana pengepnya kalau lagi pada masak dengan keadaan pintu ditutup. Mungkin itu kenapa, anak-anak Waerebo banyak yang terserang pilek. Selain udara yang lembab, ventilasi udara juga kurang lancar. Saya iseng coba masuk ke dapur dengan pintu tertutup dan hanya sanggup berdiam selama beberapa detik saja. Selain ngga kuat sama asapnya, mata juga perih banget.
Sedikit cerita mengenai Mbaru Niang, satu bangunan ditinggali oleh 6 kepala keluarga. Kecuali Mbaru Niang utama yang ditinggali oleh 8 kepala keluarga. Kamar satu dengan lainnya saling bersisian dengan pintu berupa gorden saja. Entah apa yang bisa membuat mereka dapat hidup rukun dalam satu rumah. Kebayang kalau ada yang lagi cek cok, bisa-bisa satu rumah tau semua. Huehehe.
Saat itu, hanya kami wisatawan yang datang. Salah satu mama bertanya kepada kami, berapa lama waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke Waerebo. Kemudian beliau bercerita bahwa pernah ada wisatawan yang sampai ke Waerebo dengan waktu tempuh selama 7 jam. Busettttt, kirain saya yang paling lama. *sedikit bangga* hihihi.
Setelah dihidangkan kopi asli Waerebo, kami menunggu sebentar untuk makan malam. Menu makan malam yang sangat sederhana. Kami disuguhi nasi, ayam goreng (yang saat kami datang ayam tersebut sedang siap-siap dipotong *horor*), dan sayur singkong. Saya sama sekali tidak menyentuh ayam karena mendadak ngga tega lihat ayamnya tadi :(

Kopi asli Waerebo. Kalau tehnya sih teh celup. :)))

Makan malam

Oiya, ada biaya yang harus kami keluarkan untuk menginap 1 malam disini. Per orangnya kami diharuskan membayar sebesar Rp 325.000,-. Saya pikir, sangat mahal jika dibandingkan fasilitas yang diberikan dan dibandingkan juga dengan hotel di Labuan Bajo yang hanya berharga Rp 100,000 per orang. Tapi, mengingat perjuangan orang-orang Waerebo yang membawa beras berkilo-kilo jalan kaki dari bawah sampai atas, maka harga tersebut cukup wajar (meskipun masih terasa mahal. Hiks. *kere*)
Waerebo di malam hari itu...... DINGIIIINNNNN!!! Yang awalnya niat mau mandi, urung sudah niat tersebut. Hehehe. Saya pun bersiap tidur dengan peralatan lengkap: baju panjang, jaket, selendang, selimut, dan kaos kaki. Meskipun demikian, masih terasa dingiiiiinnnn. Dari dalam rumah, angin pun terdengar berhembus kencang. Namun dasarnya kebo, cuaca gimana pun tetap saja molorrrrr. Hhihii.

Tempat tidur


Paginya, kami bangun pukul 7 *pemales*. Saya pun keluar dari Mbaru Niang dan ternyata hujan sedang turun rintik-rintik. Suasana di desa Waerebo pun sepi. Saya melihat ada salah satu Mbaru Niang yang pintunya terbuka. Saya pun berkunjung dan terdapat 2 mama yang sedang memasak. Saya menyempatkan diri untuk berbincang sebentar. Mereka sangat ramah sekali. Tak mau mengganggu lama-lama, saya pun berpamitan. Saya kembali ke Mbaru Niang yang saya tinggali semalam dan sudah tersedia sarapan. Menu sarapan ini lebih sederhana daripada semalam. Kami disuguhi nasi goreng putih  (bukan coklat) dan singkong yang digoreng kering menyerupai kerupuk. Meskipun sangat sederhana, harus tetap disyukuri :D

 
Pagi di Waerebo

Behind the scene. *candid* :)))

Sarapan

Hujan pun berhenti dan kami memutuskan untuk bergegas pulang. Sebelumnya, saya menyempatkan diri membeli kain tenun yang memang digantung berjejer diujung ruangan. Harga kain bervariasi tergantung motif. Sayangnya saya tidak sempat melihat langsung cara membuat kain tenun.

Pengen dibeli semuaaaaa~~

Pukul 9, kami berpamitan dan meninggalkan Waerebo. Perjalanan pulang cukup licin karena tadi pagi turun hujan. Kami sempat bertemu dengan beberapa warga Waerebo yang hendak pulang dari kota, sambil membawa beras, gula, dan sembako lainnya. Kami juga bertemu dengan bapak yang kemarin kami temui saat berangkat menuju Waerebo. Beliau menyalami kami dan bertanya kesan kami tentang desa Waerebo. Setelah berbincang sebentar, kami pamit dan melanjutkan perjalanan. 
Medan tidak terlalu terasa berat seperti pada saat berangkat, sampai kami menemui jalan berbatu tajam. Ohhh sungguh! Saya merasa jalan tersebut tidak ada habisnya. Saya yang menggunakan sepatu crocs beralaskan tipis pun jadi korbannya *salah sendiri L* Mana cuaca saat itu teriiiiiiiiiiiiiiikkkkk sekali. Lagi-lagi, saya ditinggal oleh Rio dan Ilham. Tapi saya kan strong girl *padahal udah mau nangis*. Ngga ding.
Saya sempat mengutuki diri kenapa ngga prepare sepatu. Kan pasti ngga akan menderita kalo pake sepatu/sendal gunung. Tapiiii, melihat warga Waerebo yang hanya meggunakan sendal jepit, saya malu sendiri. Ngga papa deh, itung-itung ikut merasakan perjuangan mereka yang hampir tiap minggu melewati jalan tersebut.
Dan setelah perjalanan panjang, saya tiba juga di desa Denge. Di sana, mobil yang kami sewa sudah menunggu. Saya pun bertemu Lorens yang hari itu bersekolah. Ternyata tadi pagi dia berangkat dari desa Waerebo pukul 5 pagi dan tiba di desa Denge pukul 6.30. Ternyata dia lari karena takut terlambat masuk sekolah. *Maaf ya Dek kami ngga tahu L*
Banyak hal yang saya peroleh dan mendapat banyak insight selama perjalanan 2 hari ini. Selama ini saya kurang bersyukur sama apa yang saya miliki. Selama kuliah, saya tak terhitung skip kelas karena malas. Memang sih dari rumah ke kampus membutuhkan waktu 1,5 jam. Tapi kan saya naik mobil, ngga perlu jalan seperti anak desa Waerebo. Begitu banyak perjuangan yang mereka keluarkan untuk mengenyam pendidikan. Pelajaran lain yang saya peroleh adalah, hidup sederhana. Saya begitu salut dengan warga desa Waerebo. Makan dengan menu sederhana, berpakaian sederhana, tidak ada TV, pokoknya sederhana. Saya selama ini terlalu banyak menghamburkan uang, yang mana tinggal minta sama Ibu dan Bapak. Sedangkan mereka, harus naik turun gunung menjual hasil kebun mereka agar mereka tetap bisa makan. *terharu*
Kami mampir sejenak di Waerebo Lodge yang terletak di desa Denge untuk mandi dan makan siang. Setelah segar dan kenyang, kami pun melanjutkan perjalanan kembali.
Terima kasih warga desa Waerebo yang telah mengijinkan kami untuk singgah sejenak. Terima kasih atas pelajaran berharganya. Semoga kita selalu berada dalam lindunganNya.




0 komentar: