welcome to my blog !
RSS

Drama Menuju Flores, Nusa Tenggara Timur (Chapter 1)



  
Liburan kali ini sebenernya salah satu bentuk pelarian dari yang namanya kewajiban, yaitu hhhhhhh..... *ga sanggup bilangnya* SKR**SI. Karena ngga ada kemajuan, mentok sama hasil ambil data, dosen pembimbing yang belum bisa diganggu karena masih berlibur, akhirnya memilih untuk liburan juga. Daripada di rumah ngga jelas makin bosen, ngerjain juga udah ga tau mau ngerjain apa karena bener-bener mentok, akhirnya nyari temen yang bisa dan mau diajak bersusah-senang menjadi teman perjalanan. Biasanya kalau pergi selalu sama sepupu, tapi  berhubung doi juga mepet sama deadline skr**sinya, akhirnya ngga bisa ikut gabung. Jadi deh akhirnya pergi sama temen-temen kuliah, Rio dan Ilham.
Kenapa sih harus Flores? Well, dari awal kuliah sebenernya udah punya niat buat mengunjungi rumah temen-temen deket. Kan lumayan yaaak bisa sambil numpang tinggal *traveler pelit* wakwakak. Waktu itu udah kesampaian ke Toraja, tempat tinggalnya Jensen. Meskipun pada akhirnya ngga mampir ke rumahnya, paling ngga jadi tahu kayak apa sih lingkungan tinggalnya. Terus udah kesampaian juga ke Palembang, tempat tinggalnya Ilham. Meskipun gara-gara pergi kesana jadi harus putus sama pacar (hiks!). Agak disayangkan sih sebenernya, hanya karena hal yang sebenernya bukan apa-apa sampai harus putus. Tapi ya mungkin udah jalannya, supaya dapet pengganti yang lebih bisa mengerti, bahwa hubungan seorang laki-laki dan perempuan itu bisa aja pure sebatas teman, ngga lebih. Oke skip. Jadi, kenapa harus Flores? Teman saya, Rio, memiliki darah Flores. Meskipun orangtuanya sekarang tinggal di Papua, tapi Bapaknya doi ini asli orang Flores. Jadi, Rio ini punya nenek disana. Dan ajaibnya, dia sendiri udah 18 tahun lebih ngga pulang ke Flores. Akhirnya setelah mengajak beberapa orang lainnya (makin banyak orang makin bisa share biaya akomodasi hehehe) namun pada ngga bisa ikut, kami pun ber 3 memantapkan hati untuk berangkat.
Pergi ke Flores ngga bisa dibilang murah. Kata orang, semakin Timur bagian Indonesia, maka akan semakin mahal. Tapi karena memang udah niat, Bismillah deh. Berburu tiket murah (yang sebenernya ngga bisa dibilang murah juga) akhirnya kami memutuskan pergi tanggal 25 Januari 2015 menggunakan maskapai Lion Air transit di Bali dan lanjut menuju Labuan Bajo. Kami berangkat pukul 04.30 WIB dan tiba di Bali pukul 07.20 WITA. Transit di Bali, tiket lanjutan kami ternyata bukan menggunakan Lion Air. Tanpa pemberitahuan, kami mendapatkan boarding pass Wings Air yang berangkat pukul 08.40 dan diperkirakan tiba di Labuan Bajo pukul 10.00 WITA. Hingga pada akhirnya pukul 09.00 belum juga dipanggil untuk boarding, barulah ada pemberitahuan bahwa pesawat delay hingga pukul 11.00 WITA. Kami tunggu hingga pukul 11.00 pun belum juga ada panggilan untuk menaiki pesawat. Bertanya pada petugas pun jawabnya: “Nanti tunggu saja pengumuman ya, Mbak.” Hadeuh. 


Dari tidur sampai bangun, tidur lagi sampai bangun lagi, belum aja dipanggil. Hingga akhirnya pukul 13.30 saya pun bertanya lagi pada petugas dan jawabannya masih sama, juga tanpa bisa menjelaskan kenapa selama itu. Sambil sedikit emosi *plis deh udah nunggu berapa jam mak!* ada salah satu petugas bandara yang menghampiri kami. Bapak itu bilang, kalau delay kami mau, dia bisa merefer kami untuk terbang dengan maskapai lain, yaitu Garuda Indonesia, dengan syarat.... “Diem-diem aja ya, Mbak. Jangan provokasi penumpang lain. Nanti saya coba bantu.” Huehhhhh.... Tapi akhirnya kami pun bisa direfer dan berangkat menggunakan Garuda pukul 14.00 WITA. Setelah penantian panjang, bo! Labuan Bajooooo, I’m coming!!!!!

Penantian tanpa kepastian *etsaaahhhhh

Yeayyyyyy!!!!!
Pertama kalinya naik pesawat baling-baling


Snack time!

Tiba di Bandara Komodo Labuan Bajo, kami ber 3 mencari taksi untuk mengantar kami ke hotel. Biayanya 60.000 plus tips 20.000 karena bapak itu udah mau diajak repot muter-muter nyari hotel. Hehehe. Akhirnya kami menginap di Hotel Bajo di jalan Soekarno Hatta. Tips yang mau traveling ke Labuan Bajo, carilah hotel di jalan ini. Selain dekat dengan pelabuhan, disini juga cukup ramai dan mudah mencari tempat makan. Cari juga hotel yang memiliki wifi karena sinyal disana hanya tersedia untuk pengguna telkomsel. Jika seperti saya yang bukan pengguna telkomsel, siap-siap harus mengandalkan wifi hotel.

Bandara Komodo, Labuan Bajo

Hotel Bajo

Tiba di hotel, ada bapak-bapak pemilik tour and travel yang menawari kami untuk join trip ke Pulau Rinca dan Komodo paket 2 hari 1 malam. Bapak itu bilang, ada 3 orang bule yang juga tertarik. Namun dia belum berani meng-iya-kan mengingat bulan-bulan ini termasuk low season, sehingga sulit memenuhi jumlah kuota. Jika kami berminat untuk bergabung, maka bapak itu akan menghubungi 3 orang bule tadi dan kami akan berangkat bersama. Setelah berdiskusi bersama Rio dan Ilham, kami pun menyanggupi. Janjian keesokan harinya pukul 08.00 pagi karena kapal akan berangkat pukul 08.30.
Malamnya kami berjalan-jalan sekitar hotel untuk mencari makan malam. Ehhhh, ngga sengaja nemu Culinary Center, sepanjang jalan menjual berbagai macam makanan, salah satunya seafood. Kami memesan ikan kerapu bakar, cumi asam manis, dan udang saus tiram. Rasanya? Enak banget sumpah!!!! Udangnya masih kerasa manis karena benar-benar fresh. Harganya? Hanya perlu membayar 105.000 rupiah, untuk ber 3. Murah banget~~~~

Culinary Center

Berbagai macam makanan

Ikaaaannnnnnn!!!!

Enak banget sumpah *ngeces*

Abis makan, kami langsung kembali ke hotel untuk istirahat. Can’t wait to see Komodos! :D





0 komentar: