Liburan
kali ini sebenernya salah satu bentuk pelarian dari yang namanya kewajiban,
yaitu hhhhhhh..... *ga sanggup bilangnya* SKR**SI. Karena ngga ada kemajuan,
mentok sama hasil ambil data, dosen pembimbing yang belum bisa diganggu karena
masih berlibur, akhirnya memilih untuk liburan juga. Daripada di rumah ngga
jelas makin bosen, ngerjain juga udah ga tau mau ngerjain apa karena bener-bener
mentok, akhirnya nyari temen yang bisa dan mau diajak bersusah-senang menjadi
teman perjalanan. Biasanya kalau pergi selalu sama sepupu, tapi berhubung doi juga mepet sama deadline skr**sinya,
akhirnya ngga bisa ikut gabung. Jadi deh akhirnya pergi sama temen-temen
kuliah, Rio dan Ilham.
Kenapa
sih harus Flores? Well, dari awal kuliah sebenernya udah punya niat buat
mengunjungi rumah temen-temen deket. Kan lumayan yaaak bisa sambil numpang
tinggal *traveler pelit* wakwakak. Waktu itu udah kesampaian ke Toraja, tempat
tinggalnya Jensen. Meskipun pada akhirnya ngga mampir ke rumahnya, paling ngga
jadi tahu kayak apa sih lingkungan tinggalnya. Terus udah kesampaian juga ke
Palembang, tempat tinggalnya Ilham. Meskipun gara-gara pergi kesana jadi harus
putus sama pacar (hiks!). Agak disayangkan sih sebenernya, hanya karena hal
yang sebenernya bukan apa-apa sampai harus putus. Tapi ya mungkin udah
jalannya, supaya dapet pengganti yang lebih bisa mengerti, bahwa hubungan
seorang laki-laki dan perempuan itu bisa aja pure sebatas teman, ngga lebih. Oke skip. Jadi, kenapa harus
Flores? Teman saya, Rio, memiliki darah Flores. Meskipun orangtuanya sekarang
tinggal di Papua, tapi Bapaknya doi ini asli orang Flores. Jadi, Rio ini punya
nenek disana. Dan ajaibnya, dia sendiri udah 18 tahun lebih ngga pulang ke
Flores. Akhirnya setelah mengajak beberapa orang lainnya (makin banyak orang
makin bisa share biaya akomodasi
hehehe) namun pada ngga bisa ikut, kami pun ber 3 memantapkan hati untuk
berangkat.
Pergi ke
Flores ngga bisa dibilang murah. Kata orang, semakin Timur bagian Indonesia,
maka akan semakin mahal. Tapi karena memang udah niat, Bismillah deh. Berburu
tiket murah (yang sebenernya ngga bisa dibilang murah juga) akhirnya kami
memutuskan pergi tanggal 25 Januari 2015 menggunakan maskapai Lion Air transit di Bali dan lanjut menuju Labuan
Bajo. Kami berangkat pukul 04.30 WIB dan tiba di Bali pukul 07.20 WITA. Transit di Bali, tiket lanjutan kami
ternyata bukan menggunakan Lion Air. Tanpa pemberitahuan, kami mendapatkan boarding pass Wings Air yang berangkat
pukul 08.40 dan diperkirakan tiba di Labuan Bajo pukul 10.00 WITA. Hingga pada
akhirnya pukul 09.00 belum juga dipanggil untuk boarding, barulah ada pemberitahuan bahwa pesawat delay hingga pukul 11.00 WITA. Kami
tunggu hingga pukul 11.00 pun belum juga ada panggilan untuk menaiki pesawat.
Bertanya pada petugas pun jawabnya: “Nanti tunggu saja pengumuman ya, Mbak.”
Hadeuh.
Dari tidur sampai bangun, tidur lagi sampai bangun lagi, belum aja
dipanggil. Hingga akhirnya pukul 13.30 saya pun bertanya lagi pada petugas dan
jawabannya masih sama, juga tanpa bisa menjelaskan kenapa selama itu. Sambil
sedikit emosi *plis deh udah nunggu berapa jam mak!* ada salah satu petugas
bandara yang menghampiri kami. Bapak itu bilang, kalau delay kami mau, dia bisa merefer kami untuk terbang dengan maskapai
lain, yaitu Garuda Indonesia, dengan syarat.... “Diem-diem aja ya, Mbak. Jangan
provokasi penumpang lain. Nanti saya coba bantu.” Huehhhhh.... Tapi akhirnya
kami pun bisa direfer dan berangkat menggunakan Garuda pukul 14.00 WITA.
Setelah penantian panjang, bo! Labuan Bajooooo, I’m coming!!!!!
 |
Penantian tanpa kepastian *etsaaahhhhh
|
 |
Yeayyyyyy!!!!!
|
 |
Pertama kalinya naik pesawat baling-baling
|
 |
| Snack time! |
Tiba di
Bandara Komodo Labuan Bajo, kami ber 3 mencari taksi untuk mengantar kami ke
hotel. Biayanya 60.000 plus tips
20.000 karena bapak itu udah mau diajak repot muter-muter nyari hotel. Hehehe.
Akhirnya kami menginap di Hotel Bajo di jalan Soekarno Hatta. Tips yang mau traveling ke Labuan Bajo, carilah hotel
di jalan ini. Selain dekat dengan pelabuhan, disini juga cukup ramai dan mudah
mencari tempat makan. Cari juga hotel yang memiliki wifi karena sinyal disana hanya tersedia untuk pengguna telkomsel.
Jika seperti saya yang bukan pengguna telkomsel, siap-siap harus mengandalkan wifi hotel.
 |
| Bandara Komodo, Labuan Bajo |
 |
| Hotel Bajo |
Tiba di
hotel, ada bapak-bapak pemilik tour and
travel yang menawari kami untuk join
trip ke Pulau Rinca dan Komodo paket 2 hari 1 malam. Bapak itu bilang, ada
3 orang bule yang juga tertarik. Namun dia belum berani meng-iya-kan mengingat
bulan-bulan ini termasuk low season,
sehingga sulit memenuhi jumlah kuota. Jika kami berminat untuk bergabung, maka
bapak itu akan menghubungi 3 orang bule tadi dan kami akan berangkat bersama.
Setelah berdiskusi bersama Rio dan Ilham, kami pun menyanggupi. Janjian
keesokan harinya pukul 08.00 pagi karena kapal akan berangkat pukul 08.30.
Malamnya
kami berjalan-jalan sekitar hotel untuk mencari makan malam. Ehhhh, ngga
sengaja nemu Culinary Center,
sepanjang jalan menjual berbagai macam makanan, salah satunya seafood.
Kami memesan ikan kerapu bakar, cumi asam manis, dan udang saus tiram. Rasanya?
Enak banget sumpah!!!! Udangnya masih kerasa manis karena benar-benar fresh. Harganya? Hanya perlu membayar
105.000 rupiah, untuk ber 3. Murah banget~~~~
 |
| Culinary Center |
 |
| Berbagai macam makanan |
 |
| Ikaaaannnnnnn!!!! |
 |
| Enak banget sumpah *ngeces* |
Abis
makan, kami langsung kembali ke hotel untuk istirahat. Can’t wait to see Komodos! :D
Diposkan oleh
affi
di
8:57 PM
0 komentar:
Post a Comment