H - 4 bulan! Gak berasa banget ya waktu berlalu begitu saja.
Lama nggak posting, update singkat aja ya.
Aku akan update berdasarkan apa yang sudah ku kerjakan ya, untuk yang masih rencana, nulisnya juga masih rencana kapan2 hihihi
Pertama - Gedung
Pemilihan gedung jatuh ke Seskoad. Kenapa? Ngga tau juga sih hahaha
Dari dulu pengen nikah disitu, karena ngga terlalu jauh dari rumah.
Waktu itu booking gedung bulan November 2016 (setahun sebelumnya bok!), dapat harga 13 juta hanya gedungnya saja. Untuk tambahan AC. blower, listrik, dll kurang lebih antara 25 - 28 juta (tergantung seberapa banyak AC yang mau disewa dll) - mahal yak :(
Perlu jadi catatan juga itu diluar biaya kebersihan. Misal pakai catering rekanan, dikenakan biaya 3,5 juta untuk biaya kebersihannya. Untuk catering bukan rekanan, harganya akan lebih mahal.
Kedua - Wedding Organizer (WO)
Aku pakai WO namanya Afrodite Wedding Service. Aku juga awalnya nggak tau sih. Ak searching2 review di blog orang juga jarang banget (atau malah ngga ada) ya yang nulis review. Cuman aku dulu iseng-iseng nanya ke Ivan Belva (karena aku udah naksir pengen pakai jasa Kang Ivan, aku nanya dulu rekomendasi WO yang bagus apa, dan Kang Ivan merekomendasikan Afrodite). Jadilah aku kontak Afrodite - Mas Danar dan akhirnya deal. Afrodite sendiri punya beberapa paket, tapi untuk yang full package dia ada 2 paket. Paket Classy dan Paket Luxe. Bedanya di jumlah stall catering, terus music pakai grand piano, sama apa lagi ya lupa hahaha.
Untuk Paket Classy sendiri (harga Desember 2016) kalau ngga salah 130 jutaan. Untuk Paket Luxe sendiri sekitar 147 juta. Mahal yak :(
Paket Afrodite ini sudah paket lengkap. Yang tidak dicover hanya baju Ibu, Undangan, Souvenir, dan seragam among tamu. Bahkan paket mereka sudah include dengan orang yang jadi penerima tamu. Kata Mas Danar, kalau penerima tamu dari keluarga atau teman-teman, pasti biasanya pada "susah" diatur, karena pasti banyak yang foto2, kalau laper yaa bakal ninggalin meja buat ngambil makan, gitu deh.
Ketiga - Undangan
Aku sempet searching2 undangan di instagram dan mupeng banyak akun. Tapi karena terbatas budget (hiks) jadi harus direm-rem. Masa ada yang bikin undangan satu bijinya 50 ribu :(
Ngga rela kalau berakhir di tong sampah :(
Awalnya aku naksir undangan di instagram tapi dia domisili di Jawa Timur. Harganya murahhhhhh banget! Untuk double hard copy cuma dihargai 4800 rupiah. Tapi ongkos kirimnya sendiri kena 700 ribu hhahaha jadi ya sama aja. Akhirnya memutuskan cari undangan di Jakarta / Bandung.
Ada yang tahu Pasar Tebet? Calon penganten yang tinggal di Jakarta pasti nggak ada yang nggak tau. Pasar Tebet itu surganya Undangan! Berbagai macam bentuk dan harga tersedia disana. Sebagai warga Tebet, aku malah awalnya nggak minat kesana wkwkwk. Padahal tiap hari lewat. Jalan kaki nggak sampe 7 menit dari rumah. Yah dasarnya pemales.
Sebelum kesana, aku searching2 dulu tentang Pasar Tebet. Waw. reviewnya sangat beragam sekali!
Ada yang bilang bagus, murah, tapi ada juga yang bilang kalau ada yang kena tipu, undangan nggak jadi2 padahal acara udah sangat mepet, udah deal terus disuruh nambah ini itu,, sampai ada yang cerita kalau salah satu toko pakai "magic" dimana ketika pelangan tertarik dan masuk, dia pasti akan langsung deal. Kan serem!
Jadi saranku buat yang mau cari undangan, silahkan browsing2 sampai eneg. List mana saja toko yang punya review bagus dan ngga. FYI, karena letaknya ada di basement dan sinyal lep lep an alias labil, jadi pastikan sudah punya listnya dan nggak perlu browsing lagi disana. Untuk bentuk undangan pun sebaiknya sudah punya gambaran, karena disana sangat variatif, nanti yang ada nggak kelar-kelar karena pengen ini pengen itu ihihi.
Aku sendiri akhirnya memilih Dian Printing. Kenapa? Pertama, dia masuk salah satu toko yang cukup direkomendasikan di beberapa blog orang. Kedua, harga yang diberikan itu paling murah diantara toko lain yang disurvey. Aku ambil model single hard cover dengan amplop dan semuanya full color. Di toko-toko lain, harga bervariasi antara 8.000-12.000. Jumlah dan ukuran juga berpengaruh terhadap harga. Padahal niatnya bikin undangan maksimal 5.000 rupiah hahaha. Abisnya kan sayang kalau cuma dibuang. Pas nanya di Dian Printing, dia bisa ngasih harga 6.000! Lumayan banget kan. Tapi waktu itu aku nggak langsung deal karena niatnya memang hanya mau survey.
2 minggu kemudian, aku balik lagi dan nanya contoh undangan yang ku mau, dan dikasih harga 7.000. Hihhhhh jiwa emak-emak keluar dan langsung protes kalau 2 minggu yang lalu dikasih harga 6.000. Masnya awalnya nego-nego biar naik tapi aku keukeuh hahahaha. Dan akhirnya dikasih harga 6.000 dengan wajah lesu wkwkwk. Mungkin waktu itu dia salah kasih harga ya kwkwkw.
Saat ini masih belum proses cetak, tapi sudah dibuatkan dummynya setelah melewati proses revisi beberapa kali. Oiya, tips satu lagi, cari percetakan yang mau membuatkan dummy, jadi kita punya bayangan akan seperti apa jadinya undangan kita nanti.
Nanti ku update lagi tentang undangan kalau sudah proses cetak.
Keempat - Souvenir
Yang ini bersambung dulu yaaa...
Nanti dilanjut :D
0
komentar
Happy 26th Birthday, Wi!
Happy Birthday Endutssss!
Nggak lupa kok nggakkk :)
Sengaja nggak mau ngucapin langsung jam 00.00, tapi lewat sini aja ya hihuhi
Cieee yang 26 tahuuunnn! Tuaaaaaa!
Selamat ulang tahun ya Wi, semoga panjang umur dan sehat selalu. Makin jaya, makin buncit, makin bahagia dan makin bisa membahagiakan orang sekitar.
Semoga lancar rejekinya, biar bisa beliin aku ini itu.
Semoga sehat selalu, jangan masuk2 rumah sakit lagi yaaa.
Thank you for being here. Thank you for everything.
Anw, selamat 14 bulan juga! :D
Langgeng terus ya kita, kurang2in lah ngeselinnyaa hahaha
Udah ah, pokoknya selamaat!
Makan2!!! Hanamasa!!! Holycowwww!! Sushi Teiiiiii!!!!!
Kecup pipi (yang lainnya belom boleh :P)
Mwaaah!
0 komentar Diposkan oleh affi di 6:49 PM
Nggak lupa kok nggakkk :)
Sengaja nggak mau ngucapin langsung jam 00.00, tapi lewat sini aja ya hihuhi
Cieee yang 26 tahuuunnn! Tuaaaaaa!
Selamat ulang tahun ya Wi, semoga panjang umur dan sehat selalu. Makin jaya, makin buncit, makin bahagia dan makin bisa membahagiakan orang sekitar.
Semoga lancar rejekinya, biar bisa beliin aku ini itu.
Semoga sehat selalu, jangan masuk2 rumah sakit lagi yaaa.
Thank you for being here. Thank you for everything.
Anw, selamat 14 bulan juga! :D
Langgeng terus ya kita, kurang2in lah ngeselinnyaa hahaha
Udah ah, pokoknya selamaat!
Makan2!!! Hanamasa!!! Holycowwww!! Sushi Teiiiiii!!!!!
Kecup pipi (yang lainnya belom boleh :P)
Mwaaah!
0 komentar Diposkan oleh affi di 6:49 PM
I am getting married!
Label: wedding, wedding planner bandung
Jijik nggak liat judulnya? :D
Yeay, random banget awalnya dan nggak tau siapa yang mulai, tiba-tiba pembicaraan tentang rencana untuk menikah terlintas begitu saja.
Sudah setahun lebih bersama dengan laki-laki ini. He is super duper patient! Kalo aku lagi sebel, terus marah-marah, dia selalu sabar. Yaa nasib deh, wanita kan selalu benar :)))))
He knows me, kalau aku bukan tipe yang bisa langsung dikonfrontasi di depan. Harus nunggu kalem dulu baru bisa diajak ngomong. Terus juga aku kadang suka marah-marah kalau pas dia nggak sigap. Entah ya, menurutku, laki-laki itu harus sigap. Gimana pun, dia yang nantinya akan jadi kepala keluarga. Dan dia tipe orang yang selalu terbuka dengan masukan. Lucky me!
Terus beberapa waktu lalu, aku kepergok chat sama mantan (isinya menjurus ke arah masa lalu dan berpotensi bikin CLBK) dan dia nggak marah. Malah dia yang minta maaf. Terus malah jadi merasa nggak enak sendiri dan bikin nggak mau lagi chat sama mantan *akhirnya insyaf*
Well, sejujurnya rencana untuk nikah sudah dari beberapa waktu yang lalu, dan rencananya akan dilaksanakan di awal tahun 2018 nanti. Realistis melihat tabungan karena nikah itu mahal banget :(
Tapi ya gimana, rencana baik kan nggak boleh ditunda-tunda *alesan*. Akhirnya memutuskan untuk dimajukan menjadi 2017.
Dan akhirnya, dia bilang ke Bapak bahwa dia mau serius. Seriously, I can't imagine the situation! Hahaha. Bapak kan orangnya kaku gitu ya. He must be really shock :)
Beberapa hari kemudian, akhirnya orang tuaku pun memberikan jawaban bahwa Insya Allah rencana ini bisa dilanjutkan (pake drama banget deh kalo doi sampe nggak bisa tidur dan susah makan, terus aku disuruh solat istikharah juga).
Back to the topic, hal yang pertama dilakukan adalah pitching dan screening vendor untuk Wedding Organizer. Kenapa akhirnya memutuskan pakai WO? Well, aku dan doi sekarang kerja di Jakarta dan penikahan akan dilangsungkan di Bandung. Keluaga dia pun semua di Jakarta. Ngga mungkin semua orang tua ku yang handle.
So far, ada 2 WO yang saat ini jadi pertimbangan. Hari Minggu ini rencana untuk meeting dan nego lebih lanjut mengenai paket yang akan diambil. Setelah itu, kami akan diskusi vendor mana yang akan kami ambil.
Aku ceritain lagi nanti di post selanjutnya ya :)
*PS. Aku sangat terbantu sekali dengan capeng-capeng yang menuliskan hasil survey mereka ke vendor-vendor yang ada, itu kenapa aku coba untuk tulis juga, siapa tahu membantu capeng lain dalam mempersiapkan pernikahan mereka. Padahal aku udah lama banget nggak buka blog ini. Tapi semoga membantu ya :)
0 komentar Diposkan oleh affi di 9:40 PM
Yeay, random banget awalnya dan nggak tau siapa yang mulai, tiba-tiba pembicaraan tentang rencana untuk menikah terlintas begitu saja.
Sudah setahun lebih bersama dengan laki-laki ini. He is super duper patient! Kalo aku lagi sebel, terus marah-marah, dia selalu sabar. Yaa nasib deh, wanita kan selalu benar :)))))
He knows me, kalau aku bukan tipe yang bisa langsung dikonfrontasi di depan. Harus nunggu kalem dulu baru bisa diajak ngomong. Terus juga aku kadang suka marah-marah kalau pas dia nggak sigap. Entah ya, menurutku, laki-laki itu harus sigap. Gimana pun, dia yang nantinya akan jadi kepala keluarga. Dan dia tipe orang yang selalu terbuka dengan masukan. Lucky me!
Terus beberapa waktu lalu, aku kepergok chat sama mantan (isinya menjurus ke arah masa lalu dan berpotensi bikin CLBK) dan dia nggak marah. Malah dia yang minta maaf. Terus malah jadi merasa nggak enak sendiri dan bikin nggak mau lagi chat sama mantan *akhirnya insyaf*
Well, sejujurnya rencana untuk nikah sudah dari beberapa waktu yang lalu, dan rencananya akan dilaksanakan di awal tahun 2018 nanti. Realistis melihat tabungan karena nikah itu mahal banget :(
Tapi ya gimana, rencana baik kan nggak boleh ditunda-tunda *alesan*. Akhirnya memutuskan untuk dimajukan menjadi 2017.
Dan akhirnya, dia bilang ke Bapak bahwa dia mau serius. Seriously, I can't imagine the situation! Hahaha. Bapak kan orangnya kaku gitu ya. He must be really shock :)
Beberapa hari kemudian, akhirnya orang tuaku pun memberikan jawaban bahwa Insya Allah rencana ini bisa dilanjutkan (pake drama banget deh kalo doi sampe nggak bisa tidur dan susah makan, terus aku disuruh solat istikharah juga).
Back to the topic, hal yang pertama dilakukan adalah pitching dan screening vendor untuk Wedding Organizer. Kenapa akhirnya memutuskan pakai WO? Well, aku dan doi sekarang kerja di Jakarta dan penikahan akan dilangsungkan di Bandung. Keluaga dia pun semua di Jakarta. Ngga mungkin semua orang tua ku yang handle.
So far, ada 2 WO yang saat ini jadi pertimbangan. Hari Minggu ini rencana untuk meeting dan nego lebih lanjut mengenai paket yang akan diambil. Setelah itu, kami akan diskusi vendor mana yang akan kami ambil.
Aku ceritain lagi nanti di post selanjutnya ya :)
*PS. Aku sangat terbantu sekali dengan capeng-capeng yang menuliskan hasil survey mereka ke vendor-vendor yang ada, itu kenapa aku coba untuk tulis juga, siapa tahu membantu capeng lain dalam mempersiapkan pernikahan mereka. Padahal aku udah lama banget nggak buka blog ini. Tapi semoga membantu ya :)
0 komentar Diposkan oleh affi di 9:40 PM
Dari Aimere, The Local Wine Laboratory hingga ke Kampung Adat Bena (Chapter 5)
Label: flores, traveling, Trip
Dari desa
Waerebo, kami melanjutkan perjalanan menuju Bajawa. Di tengah perjalanan, kami
menyempatkan diri ke Aimere, yaitu daerah yang terkenal sebagai produsen arak
lokal Flores, atau yang biasa disebut dengan moke. Kami singgah sejenak dan bapak pemiliknya dengan berbaik hati
mau menjawab ke-kepo-an kami.
Jadi,
asal muasal moke ini adalah dari buah
lontar. Buah ini diproses hingga menjadi cairan yang ditampung dalam
ember-ember. Kemudian cairan tersebut dimasukkan ke dalam sebuah tungku dan
dipanaskan dengan suhu tertentu selama kurang lebih 1 hari. Uap yang dihasilkan
dari hasil pemanasan tersebut lah yang kemudian ditampung dan menjadi moke. Moke sendiri terdiri dari beberapa kelas. Kelas 1 merupakan moke dengan tingkat alkohol paling
tinggi. Penguapannya bisa 2 hingga 3 kali. Jadi uap yang sudah ditampung akan
diuapkan kembali. Harga moke kelas 1
adalah 100.000 rupiah per 600 ml. Kemudian ada moke kelas 2 dan kelas 3 yang tingkat alkoholnya lebih rendah dari moke kelas 1. Harganya pun lebih murah,
berkisar antara 50.000 rupiah per 600 ml.
Buah lontar |
Hasil perasan buah lontar. Untuk menghasilkan 1 ember membutuhkan berpuluh-puluh buah lontar |
proses penguapan |
Kami pun
melanjutkan perjalanan dan akan bermalam di Bejawa. Kami tiba di sebuah
penginapan yang cukup bersih dan cukup bagus (better dibanding hotel di LBJ) bernama Lukas dengan tarif Rp
250.000 untuk ber 3.
Pagi harinya, setelah mandi
(sambil teriak-teriak karena super dingin) dan sarapan, kami melanjutkan
perjalanan. Kami menuju Malanage Hotspring. Ini tempat sebenarnya di
pinggir jalan, namun tidak ada tanda atau plang jadi sepertinya kalau turis
macam kami ini ngga akan tahu kalau ada tempat itu. Malanage ini merupakan
sungai alami, yang juga biasa disebut dengan magic hotspring. Dari 2
sumber sungai berbeda dan kemudian menjadi satu. Sumber sungai yang pertama
merupakan air panas *beneran panas* dan sumber sungai sungai kedua merupakan
air dingin. Maka ketika sudah bercampur, air pun menjadi hangat. Rio dan Ilham
sempat berenang-renang. Saya sih rencananya hanya main air saja, meskipun
akhirnya basah juga.![]() |
Ngga ada foto yang lebih jelas daripada ini. Hihihi maaf ya |
Tidak
lama bermain air, kami pun kembali melanjutkan perjalanan. Saya sempat tidur di
jalan beberapa kali. Sebenarnya sudah menahan diri agar tidak tertidur karena
pemandangan sepanjang jalan yang luar biasa indahnya. Namun apalah daya saya
manusia setengah kebo, jalan yang berkelok-kelok pun seperti meninabobokan
saya. Hihi
Bangun-bangun
saya sudah berada di Kampung Adat Bena. Bena
ini berada di kabupaten Ngada. Bena merupakan kampung yang dianggap sebagai
kampung tertua yang masih bertahan dengan apa yang diwariskan oleh leluhur.
Bena sendiri diambil dari seseorang yang bernama Bena pada awal pendirian
kampung karena dia merupakan yang paling tua diantara saudara-saudaranya. (sumber:
plang yang terdapat di Kampung Bena).
Mata
pencaharian utama dari penduduk kampung ini adalah berkebun. Ketika kami
mengunjungi kampung tersebut, terdapat beberapa ibu yang sedang mengupas
kemiri, yang mana merupakan hasil kebun mereka.
![]() |
Kampung Bena |
![]() |
Mengupas kemiri |
![]() |
Menenun |
![]() |
Kain tenun |
![]() |
I feel freeeee~~~ |
Di depan
rumah-rumah tersebut, banyak digelar kain-kain tenun yang ternyata
diperjualbelikan. Ingin hati saya membelinya mengingat setiap bagian di Flores
memiliki corak khasnya masing-masing. Namun apa daya saya harus mengirit karena
sebelumnya sudah membeli 3 lembar kain tenun.
Motif kain tenun dari Bena ini pada umumnya
bergambar jara (kuda), wa’i manu (cakar ayam), ghi’u (garis dinamis), ube, ngadhu, dan bhaga. Motif ini juga memiliki jenjang dan diatribuskan pada jenis
kelamin pemakainya. Untuk anak-anak, wa’i
manu diaplikasikan sebagai tanda bahwa mereka sedang berada pada tahapan
langkah awal atau taraf mencari ilmu untuk menghidupi mereka ke depan. Sedangkan
kuda, merupakan alat mas kawin dan alat transportasi yang penting. Ghi’u yang berbentu kurva melengkung
menyerupai gunung sebagai lambang bahwa manusia harus siap menjalani hidup yang
baik turun/dinamis. Ube merupakan
suatu figur memegang tombak, sebagai lambang perlindungan diri dari musuh. Ngadhi berarti bahwa laki-laki dewasa
harus melindungi keluarga, mencari nafkah dan menjadi penegak nilai. Sedangkan
motif apapun yang lebih besar biasa disebut dengan motif gajah, yang merupakan
motif spesial dan merupakan lambang suatu kebesaran. Hanya orang-orang dari rang (kelas) atas yang bisa memakainya, meskipun saat ini semua orang sudah
dapat memakainya.
Sedangkan
sarung ikat yang digunakan oleh perempuan pada umumnya bermotif perhiasan yang
biasa digunakan di telinga perempuan dengan bentuk segitiga, atau yang disebut
dengan bela. Letak motif ini biasanya
ditempatkan di masing-masing pinggir sarung mengapit motif kuda yang berada di
tengah. Selain itu juga, terdapat motif bhaga
yang biasa digunakan oleh perempuan yang sudah memiliki anak, sebagai lambang
kesuburan.
Setelah berkeliling,
kami melanjutkan perjalanan menuju Ende, rumah neneknya Rio. Sepanjang
perjalanan saya pun tertidur *kebo*. Dan saya baru terbangun saat kami hampir
tiba di destinasi.
Next: Indahnya Danau Kelimutu
(bersambung)
Waerebo, desa di kaki langit (chapter 4)
Label: flores, traveling, Trip
lanjutan dari:
*chapter 1
*chapter 2
*chapter 3
Setelah
berpamitan, kami kembali mendaki. Ngga perlu takut nyasar, soalnya memang hanya
ada 1 jalan setapak dan tidak ada percabangan. Saya ditinggal di belakang
dengan Gonza. Ilham dan Rio udah duluan entah kemana. Saya sih jalannya
pelan-pelan saja sambil menikmati pemandangan *padahal sih karena kelelahan*
hehe. Melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 5 sore, saya pun mempercepat
langkah. Takut keburu gelap kan seremmmm. 2 km sebelum sampai, medan perjalanan
tak sesulit di awal tadi. Jalan cenderung landai dan sedikit menurun. Dan pukul
6 tepat, saya sampai di sebuah bangunan seperti saung (sayangnya saya lupa
bertanya apa namanya). Dari sini, desa Waerebo sudah terlihat jelas karena
memang hanya berjarak 0,5 km. Seperti di panduan yang tertera, kami harus
memukul pentungan untuk memberikan tanda kepada warga bahwa akan ada tamu yang
datang. Dan akhirnya................................................... WELCOME
TO DESA WAEREBO!!!! Perasaan campur aduk. Setelah 4 jam berjalan kaki, perasaan
ingin menyerah di tengah jalan, kaki yang digigit lintah dimana-dimana, semua
terbayar setelah sampai disini.
Begitu sampai, kami langsung menuju Mbaru Niang (sebutan untuk rumah Waerebo) utama. Disana kami disambut oleh pemuda Waerebo dan kepala adatnya. Sebelum tinggal di desa Waerebo, memang diharuskan melaksanakan upacara adat terlebih dahulu. Kepala adat berdoa kepada leluhur, dan menerima kami bukan lagi sebagai orang Bandung, namun sudah menjadi bagian dari anak Waerebo. Untuk upacara adat tersebut, kami diharuskan membayar dengan nominal sukarela. Setelah upacara adat selesai, kami pun menuju Mbaru Niang yang memang sudah disediakan khusus untuk tamu yang datang. Salah satu perbedaan antara Mbaru Niang yang kami tempati dengan Mbaru Niang yang lain adalah dapurnya. Mbaru Niang yang kami tempati terpisah dari dapur. Dapur berada di belakang dan memiliki bangunan tersendiri. Sedangkan Mbaru Niang lain, dapur terletak di tengah-tengah ruangan yang dikelilingi oleh kamar-kamar. Kebayang gimana pengepnya kalau lagi pada masak dengan keadaan pintu ditutup. Mungkin itu kenapa, anak-anak Waerebo banyak yang terserang pilek. Selain udara yang lembab, ventilasi udara juga kurang lancar. Saya iseng coba masuk ke dapur dengan pintu tertutup dan hanya sanggup berdiam selama beberapa detik saja. Selain ngga kuat sama asapnya, mata juga perih banget.
0
komentar
Diposkan oleh
affi
di
10:21 AM
*chapter 1
*chapter 2
*chapter 3
Kami berangkat
pukul 8 dari Labuan Bajo dan sampai di desa Denge pukul 2 siang. Untungnya
siang itu tidak begitu terik. Cenderung mendung malah, tapi tidak hujan. Kami
start dari desa Denge pukul 14.10 diantar dengan 2 anak asli Waerebo yang
bersekolah di desa Denge, yaitu Lorenz dan Gonza. Lorenz ini kelas 6 SD
sedangkan Gonza kelas 1 SD. Perjalanan dari desa Denge menuju Waerebo tidak
bisa dikatakan mudah. 3 km pertama dilalui dengan perjuangan dahsyat karena
jalan yang curam menanjak dengan bebatuan yang sangat tajam. Jadi katanya,
mulai bulan Maret 2015 akan dibangun jalan. Apesnya kami datang saat jalan
belum jadi namun proses persiapannya sudah dimulai. Jadi harus menginjak
bebatuan super tajam dengan sepatu yang tipis ini. Sebenernya ngga expect bakal sesulit ini medannya. Ku
pikir yaa trekking santai aja gitu
wakwakaka. Makanya ngga terlalu banyak persiapan.
Jalan terjal tak berujung. Tungguin napaaa~~~ |
Setelah
berjalan kurang lebih 3 km, kami menemui sungai pertama. Melewati sungai,
terdapat plang mengenai pesan dari penduduk asli Waerebo. Perjalanan berikutnya
sudah beralaskan tanah, pohon pun sudah cukup rindang. Jalanan menanjak yang
lumayan licin karena semalam hujan menemani kami selama perjalanan. Emang
dasarnya jarang olahraga, jalan beberapa menit aja capek wakakak. Berkali-kali
istirahat sampai ngga keitung jumlahnya. Hingga 3 km menuju desa Waerebo, kami
bertemu dengan bapak-bapak yang sedang istirahat. Bapak itu membawa 2 bongkahan
kayu super besar untuk dijual di kota. Kami sempat mengobrol sejenak. Rupanya
bapak itu bertelanjang kaki. Aku yang dari awal mengutuki karena salah sepatu
jadi malu sendiri. Rasanya banyak ngeluhnya. Padahal, barang bawaannya ga
seberapa.
Belum pernah ada kan yang naik gunung pake sendal crocs? |
![]() |
Selfieee dulu kitaaa~~ |
![]() |
Memandang alam dari atas bukit *nyanyi* |
![]() |
Waerebo |
![]() |
Kaki saya yang indah |
Begitu sampai, kami langsung menuju Mbaru Niang (sebutan untuk rumah Waerebo) utama. Disana kami disambut oleh pemuda Waerebo dan kepala adatnya. Sebelum tinggal di desa Waerebo, memang diharuskan melaksanakan upacara adat terlebih dahulu. Kepala adat berdoa kepada leluhur, dan menerima kami bukan lagi sebagai orang Bandung, namun sudah menjadi bagian dari anak Waerebo. Untuk upacara adat tersebut, kami diharuskan membayar dengan nominal sukarela. Setelah upacara adat selesai, kami pun menuju Mbaru Niang yang memang sudah disediakan khusus untuk tamu yang datang. Salah satu perbedaan antara Mbaru Niang yang kami tempati dengan Mbaru Niang yang lain adalah dapurnya. Mbaru Niang yang kami tempati terpisah dari dapur. Dapur berada di belakang dan memiliki bangunan tersendiri. Sedangkan Mbaru Niang lain, dapur terletak di tengah-tengah ruangan yang dikelilingi oleh kamar-kamar. Kebayang gimana pengepnya kalau lagi pada masak dengan keadaan pintu ditutup. Mungkin itu kenapa, anak-anak Waerebo banyak yang terserang pilek. Selain udara yang lembab, ventilasi udara juga kurang lancar. Saya iseng coba masuk ke dapur dengan pintu tertutup dan hanya sanggup berdiam selama beberapa detik saja. Selain ngga kuat sama asapnya, mata juga perih banget.
Sedikit
cerita mengenai Mbaru Niang, satu bangunan ditinggali oleh 6 kepala keluarga.
Kecuali Mbaru Niang utama yang ditinggali oleh 8 kepala keluarga. Kamar satu dengan
lainnya saling bersisian dengan pintu berupa gorden saja. Entah apa yang bisa
membuat mereka dapat hidup rukun dalam satu rumah. Kebayang kalau ada yang lagi
cek cok, bisa-bisa satu rumah tau semua. Huehehe.
Saat itu,
hanya kami wisatawan yang datang. Salah satu mama bertanya kepada kami, berapa
lama waktu yang kami butuhkan untuk sampai ke Waerebo. Kemudian beliau
bercerita bahwa pernah ada wisatawan yang sampai ke Waerebo dengan waktu tempuh
selama 7 jam. Busettttt, kirain saya yang paling lama. *sedikit bangga* hihihi.
Setelah
dihidangkan kopi asli Waerebo, kami menunggu sebentar untuk makan malam. Menu
makan malam yang sangat sederhana. Kami disuguhi nasi, ayam goreng (yang saat
kami datang ayam tersebut sedang siap-siap dipotong *horor*), dan sayur
singkong. Saya sama sekali tidak menyentuh ayam karena mendadak ngga tega lihat
ayamnya tadi :(
![]() |
Kopi asli Waerebo. Kalau tehnya sih teh celup. :))) |
![]() |
Makan malam |
Oiya, ada
biaya yang harus kami keluarkan untuk menginap 1 malam disini. Per orangnya
kami diharuskan membayar sebesar Rp 325.000,-. Saya pikir, sangat mahal jika
dibandingkan fasilitas yang diberikan dan dibandingkan juga dengan hotel di
Labuan Bajo yang hanya berharga Rp 100,000 per orang. Tapi, mengingat
perjuangan orang-orang Waerebo yang membawa beras berkilo-kilo jalan kaki dari
bawah sampai atas, maka harga tersebut cukup wajar (meskipun masih terasa
mahal. Hiks. *kere*)
Waerebo
di malam hari itu...... DINGIIIINNNNN!!! Yang awalnya niat mau mandi, urung
sudah niat tersebut. Hehehe. Saya pun bersiap tidur dengan peralatan lengkap:
baju panjang, jaket, selendang, selimut, dan kaos kaki. Meskipun demikian,
masih terasa dingiiiiinnnn. Dari dalam rumah, angin pun terdengar berhembus
kencang. Namun dasarnya kebo, cuaca gimana pun tetap saja molorrrrr. Hhihii.
![]() |
Tempat tidur |
Paginya,
kami bangun pukul 7 *pemales*. Saya pun keluar dari Mbaru Niang dan ternyata
hujan sedang turun rintik-rintik. Suasana di desa Waerebo pun sepi. Saya
melihat ada salah satu Mbaru Niang yang pintunya terbuka. Saya pun berkunjung
dan terdapat 2 mama yang sedang memasak. Saya menyempatkan diri untuk
berbincang sebentar. Mereka sangat ramah sekali. Tak mau mengganggu lama-lama,
saya pun berpamitan. Saya kembali ke Mbaru Niang yang saya tinggali semalam dan
sudah tersedia sarapan. Menu sarapan ini lebih sederhana daripada semalam. Kami
disuguhi nasi goreng putih (bukan
coklat) dan singkong yang digoreng kering menyerupai kerupuk. Meskipun sangat
sederhana, harus tetap disyukuri :D
Behind the scene. *candid* :))) |
Sarapan |
Hujan pun
berhenti dan kami memutuskan untuk bergegas pulang. Sebelumnya, saya
menyempatkan diri membeli kain tenun yang memang digantung berjejer diujung
ruangan. Harga kain bervariasi tergantung motif. Sayangnya saya tidak sempat
melihat langsung cara membuat kain tenun.
![]() |
Pengen dibeli semuaaaaa~~ |
Pukul 9,
kami berpamitan dan meninggalkan Waerebo. Perjalanan pulang cukup licin karena
tadi pagi turun hujan. Kami sempat bertemu dengan beberapa warga Waerebo yang
hendak pulang dari kota, sambil membawa beras, gula, dan sembako lainnya. Kami
juga bertemu dengan bapak yang kemarin kami temui saat berangkat menuju
Waerebo. Beliau menyalami kami dan bertanya kesan kami tentang desa Waerebo.
Setelah berbincang sebentar, kami pamit dan melanjutkan perjalanan.
Medan
tidak terlalu terasa berat seperti pada saat berangkat, sampai kami menemui
jalan berbatu tajam. Ohhh sungguh! Saya merasa jalan tersebut tidak ada
habisnya. Saya yang menggunakan sepatu crocs beralaskan tipis pun jadi
korbannya *salah sendiri L* Mana
cuaca saat itu teriiiiiiiiiiiiiiikkkkk sekali. Lagi-lagi, saya ditinggal oleh
Rio dan Ilham. Tapi saya kan strong girl
*padahal udah mau nangis*. Ngga ding.
Saya
sempat mengutuki diri kenapa ngga prepare
sepatu. Kan pasti ngga akan menderita kalo pake sepatu/sendal gunung. Tapiiii,
melihat warga Waerebo yang hanya meggunakan sendal jepit, saya malu sendiri.
Ngga papa deh, itung-itung ikut merasakan perjuangan mereka yang hampir tiap
minggu melewati jalan tersebut.
Dan
setelah perjalanan panjang, saya tiba juga di desa Denge. Di sana, mobil yang
kami sewa sudah menunggu. Saya pun bertemu Lorens yang hari itu bersekolah.
Ternyata tadi pagi dia berangkat dari desa Waerebo pukul 5 pagi dan tiba di
desa Denge pukul 6.30. Ternyata dia lari karena takut terlambat masuk sekolah.
*Maaf ya Dek kami ngga tahu L*
Banyak
hal yang saya peroleh dan mendapat banyak insight selama perjalanan 2 hari ini.
Selama ini saya kurang bersyukur sama apa yang saya miliki. Selama kuliah, saya
tak terhitung skip kelas karena malas. Memang sih dari rumah ke kampus
membutuhkan waktu 1,5 jam. Tapi kan saya naik mobil, ngga perlu jalan seperti
anak desa Waerebo. Begitu banyak perjuangan yang mereka keluarkan untuk
mengenyam pendidikan. Pelajaran lain yang saya peroleh adalah, hidup sederhana.
Saya begitu salut dengan warga desa Waerebo. Makan dengan menu sederhana,
berpakaian sederhana, tidak ada TV, pokoknya sederhana. Saya selama ini terlalu
banyak menghamburkan uang, yang mana tinggal minta sama Ibu dan Bapak.
Sedangkan mereka, harus naik turun gunung menjual hasil kebun mereka agar
mereka tetap bisa makan. *terharu*
Kami
mampir sejenak di Waerebo Lodge yang
terletak di desa Denge untuk mandi dan makan siang. Setelah segar dan kenyang,
kami pun melanjutkan perjalanan kembali.
Terima
kasih warga desa Waerebo yang telah mengijinkan kami untuk singgah sejenak.
Terima kasih atas pelajaran berharganya. Semoga kita selalu berada dalam
lindunganNya.
Dari Pantai Pink yang-entah-dimana-pinknya, hingga ke Manta Point (Chapter 3)
Label: flores, traveling, Trip
Hoam..
kebangun gara-gara Rio sibuk nyari celana renangnya. Ternyata kami sudah tiba
di tempat snorkeling pertama. Michele
dan Tracie bahkan sudah mulai nyebur ke laut. Setelah ganti baju, saya pun tak
mau ketinggalan untuk melihat keindahan bawah lautnya. Kami ber 3 pun mampir ke
pantai dan sempat mengajari Ilham menggunakan alat snorkelnya hihi. Setelah puas bermain di pantai dan melihat turumbu
karang di laut, kami kembali ke kapal. Iseng saya tanya ke kapten kapalnya,
kapan kita menuju Pantai Pink yang terkenal itu. Si kapten pun terlihat bingung
dan berkata, “Lah, ini barusan kita snorkeling
di Pantai Pink.” Saya, Ilham, dan Rio saling bertatapan dan.... “PAK SEBENTAR
JANGAN DULU JALAN!! *sambil buru-buru ambil kamera*” Karena tadi telat bangun,
kami sama sekali ngga tau ada dimana. Dan emang ngga nanya juga sih. Tapi bener
deh, kok menurutku ngga ada pink nya sama sekali yaaa. Makanya sama sekali ngga
sadar kalo itu ternyata Pantai Pink. Jadilah kami hanya mendapat foto dari
jarak jauh karena baru sadar setelah ada di kapal. Hueheheh
Ini Pantai Pink. Nggggggg.... |
Next destination is Mantan Manta Point. Ini merupakan tempat dimana kita bisa lihat ikan manta, atau yang biasa dikenal
dengan ikan pari. Sumpeeehhhh, banyak banget ikan parinya. Ratusan ada, kali.
Sayangnya di sini kami ngga bisa snorkeling
karena arusnya yang cukup kuat. Lagian serem ga sih berenang bareng sama
beratus-ratus ikan Manta dengan lebar lebih dari 3 meter?
Dari
Manta Point, kami menuju ke Pulau Kalong untuk snorkeling lagi. Ikannya lumayan banyak dan disana saya melihat clown fish, si Nemo. Hihihi lucu
berenang-renang di antara karang.
Clown fish |
Destinasi
selanjutnya adalah Pulau Bidadari. Namun karena cuaca yang kurang mendukung dan
gelombang yang tinggi, kapten kapal pun tidak memberangkatkan kami kesana.
Kecewa sih, tapi daripada nyawa yang jadi taruhannya? Akhirnya kami memutuskan
untuk kembali ke Labuan Bajo. Ngga lupa kami janjian sama para bule untuk makan
malam bersama di Culinary Center
(masih belum bisa move on sama rasa
dan harganya. Huahhaha).
Random |
Nanas terenak yang pernah ku makan |
Setibanya di Labuan Bajo, kami kembali
check-in di hotel yang sama (karena
ada wifinya) dan merencanakan transport yang akan digunakan esok hari untuk
menuju desa Waerebo. Setelah gugling dan nanya sana sini, ada 2 alternatif yang
dapat digunakan. Pertama dengan mencarter mobil. Harga tentu lebih mahal tapi
ngga perlu repot. Kedua, dengan menggunakan angkutan umum. Seperti travel gitu,
menuju ke Ruteng dan dilanjut menggunakan oto kayu menuju desa terakhir sebelum
mendaki, yaitu desa Denge. Hanya saja, cukup riskan kalau menggunakan oto kayu
mengingat oto kayu itu hanya ada pada jam tertentu dan hanya ada 1 kali setiap
harinya. Jadi kalau tertinggal, siap-siap harus menunggu esok harinya.
Kami
bertanya ke beberapa tour and travel
di sekitar hotel. Paket overland
Flores untuk 4 hari 3 malam itu sekitar 4.2 juta. Dan itu ngga mengunjungi
Waerebo. Menuju Waerebo sendiri membutuhkan waktu 3 hari 2 malam dan kita harus
mengeluarkan biaya sekitar 3 jutaan. Jadi kalo di total bisa sampai
.................... juta. IBUUUUUUU!!!
Akhirnya
kami bertanya dengan tour yang
kemarin membawa kami ke Pulau Komodo. Dan emang dasarnya jodoh kali ya....
Bapak itu nawarin, jadi ada orang sewa tour milik temannya dan start dari
Maumere berhenti di Labuan Bajo. Kalau mau, kita bisa sewa mobil lebih murah
karena sekalian teman bapak itu pulang kembali ke Maumere (kami tidak perlu
membayar hari tambahannya). Karena biasanya, kalau kita menghabiskan waktu 3
hari 2 malam, maka akan dihitung 4 hari 3 malam (perjalanan kembali dihitung 1
hari).
Perhitungan
overland Flores include Waerebo adalah
4 hari 3 malam, karena kita harus mampir juga ke rumah neneknya Rio di Ende. Untuk
travel ini dikenakan biaya 3 juta. Masih mahal sih apalagi kami yang hanya 3
orang (itu kenapa kalau pergi gini idealnya adalah 4-5 orang, bisa share
akomodasi dan lebih irit). Tapi mengingat barang bawaan banyak (bahkan Ilham
bawa koper) dan ngga mungkin naik gunung bawa barang banyak, kami butuh tempat
buat sekalian nitipin barang. Akhirnya kami memutuskan untuk menyewa mobil
tersebut.
Malamnya,
kami janjian pukul 7 di depan hotel dimana Michele menginap. Setelah itu
menjemput Corrie dan Tracie lalu bersama-sama menuju Culinary Center. Kami memesan 2 ikan bakar, 1 porsi besar cumi
goreng, dan 1 porsi besar cumi asam manis. Sayangnya ngga ada udang *padahal ngidam
banget*. Kami makan ber 6 dengan porsi 8 orang karena Corrie kalau makan bisa 3
porsi sendiri huahahaha.
![]() |
Tamhitaammm. Songgosongggg~~~ |
Setelah
makan kami duduk-duduk dan ngobrol sejenak di pinggir pelabuhan. Ternyata
Corrie itu keponakannya Tracie. Mereka traveling dari Sumatera Utara menyusur
hingga Labuan Bajo, dan esoknya akan terbang ke Bali. Tak terasa kantuk pun
menyerang, kami akhirnya berpamitan dan kembali ke hotel masing-masing.
Komodo di Pulau Rinca dan Pulau Komodo (Chapter 2)
Label: flores, traveling, Trip
Lanjutan dari *chapter 1
Hoammmm,
setelah snooze alarm berkali-kali, akhirnya berhasil bangun juga *keset*. Sarapan
seadanya terus check out dan menuju
ke tour and travel yang notabene
persis di sebelah hotel kami. Di sana sudah menunggu 3 orang bule dan kami pun
berkenalan. 1 orang berasal dari Italia, namanya Michele. 2 orang berasal dari
England, namanya Tracie dan Corrie. Setelah mencoba ukuran fin, kami pun berjalan menuju pelabuhan dan menaiki kapal.
Kapal yang kami tumpangi |
Di kapal
tersebut terdapat 2 kamar. 1 kamar untuk kami, 1 kamar untuk grup mas dan mbak
bule. Tepat pukul 08.30 kapal berangkat. Tujuan pertama kami adalah Pulau
Rinca. Setelah 2,5 jam perjalanan, tibalah kami di Pulau Rinca. Kami disambut
oleh seekor Komodo yang mejeng di depan kantor administrasinya. Sebelum
mengitari pulau ini lebih lanjut, kami diharuskan membayar tiket masuk (Pulau
Rinca include Pulau Komodo) serta
membayar ranger nya. Setelah
administrasi selesai, kami dijelaskan sedikit mengenai Pulau Rinca. Terdapat 3 treks yang dapat dilalui. Short trek, medium trek, dan long trek. Setelah diskusi akhirnya kami
memilih medium trek. Medium treknya
ternyata lumayan jauh juga. Kami berjalan kurang lebih 2 jam lamanya. Mana
sepanjang perjalanan ngga ketemu komodo. Hahahaha. Liat banyak Komodo malah di
dekat kantor administrasi. Mereka sedang pada berkumpul karena mencium bau
masakan dari arah dapur. Pada dasarnya Komodo adalah hewan penyendiri. Bahasa
kerennya, introvert kali ya. Tapi ya
karena mencium bau makanan tadi makanya mereka berkumpul. Hehehe.
Welcome! |
Disambut si Komkom |
Perrrlaperrrrrr |
Short, Medium, dan Long Trek |
Dari
penjelasan Bapak ranger, Komodo di Pulau
Rinca ini ukurannya tidak sebesar di Pulau Komodo. Komodo merupakan hewan yang
sulit ditebak. Kita harus ekstra waspada karena meskipun Komodo diam, namun
diamnya adalah diam yang menghanyutkan *apa sih*. Komodo ternyata hewan yang multitalent loh! Dia bisa lari (yang
kecepatannya bisa mengalahkan manusia), dia bisa manjat pohon, bahkan bisa
berenang meskipun hanya dalam jangka waktu yang singkat. Komodo merupakan hewan
kanibal. Dia bisa makan anaknya sendiri. Hiiiiii. Satu gigitan Komodo bisa
sangat mematikan jika tidak langsung ditangani. Bukan karena mengandung bisa,
namun dari hasil penelitian, katanya gigitan Komodo mengandung 67 (atau
69-lupa) jenis bakteri berbahaya. Meskipun ditangani dengan cepat pun, katanya
tidak bisa menjadi normal kembali. Serem ya! Makanya ngga boleh jauh-jauh dari rangernya.
Jangan jauh-jauh dooong, Pak! *genit* |
Kami
melanjutkan perjalanan menuju Pulau Komodo. Dari Pulau Rinca, perjalanan di
tempuh kurang lebih 2 jam. Cukup jauh juga ternyata. Di Pulau Komodo, kami
tidak perlu lagi membayar tiket masuknya. Hanya cukup membayar rangernya saja. Disana juga terdapat 3 treks yang dapat dipilih. Namun karena
hari sudah sore, kami dianjurkan untuk mengambil short trek. Selama di jalan pun kami tidak melihat Komodo
berkeliaran hahaha. Lagi-lagi, malah banyak berkumpul di dekat pantai dan
kantor administrasinya.
![]() |
Muehehehe~~~ |
![]() |
Populasi Komodo |
Puas berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan ke
perkampungan Komodo untuk melipir dan menginap di sana (dalem kapal yaaa, bukan
di rumah warganya hahaha). Saat itu hujan melanda cukup deras. Awan cukup gelap
dan angin bertiup cukup kencang. Akhirnya kami masuk ke dalam kamar agar
terhindar dari hujan angin.
Hujan
cukup reda, kami pun turun ke perkampungan untuk membeli beberapa minuman.
Perkampungan komodo ini juga terletak di pulau komodo *meskipun jaraknya cukup
jauh*. Jadi ya tidak menutup kemungkinan bisa ada komodo yang datang. Hiiiii.
Rata-rata rumahnya dibuat seperti rumah panggung. Mungkin supaya kalau ada
komodo ngga masuk kali ya...
Kembali
ke kapal dan ngobrol ngarol ngidul (plus ditambah galau galau sikiiit *teteup*)
kami masuk kamar dan tidur. Besok rencananya kami akan snorkeling di Pantai Pink, melihat ikan pari di Manta Point, snorkeling di Pulau Kalong, dan
berkunjung ke pulau Bidadari.
Subscribe to:
Posts (Atom)